34 Tahun Merindukan Anak


atatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Anak merupakan titipan Tuhan. Tak salah jika anak disebut amanat Tuhan. Juga anugerah-Nya paling besar. Perjuangan bagi seorang ibu saat melahirkan anaknya dan pengorbanan orang tua dalam membesarkan mereka bisa menjadi suatu kebahagiaan tersendiri. Suatu kebanggaan karena diberi kepercayaan untuk mendidik mereka menjadi manusia yang baik.

Namun, tidak semua orang diberi kepercayaan yang besar itu dari-Nya. Ada orang tua yang begitu mendambakan kehadiran si kecil, namun tak kunjung mendapatkannya, bahkan selama berpuluh-puluh tahun.

Itulah pengalaman saya dengan Malik. Sehari-hari ia mencari rezeki dengan menjual es tebu di pinggiran Dusun Saimbang, Desa Saimbang, Sidoarjo. Letaknya tak jauh dari SDIT Nurul Fikri, tempat saya biasa antar jemput istri saya.

Setahun lalu, Malik memiliki kedai kopi dengan bagunan semipermanen di tempat yang tak jauh dari tempatnya berjualan es tebu saat ini. Karena adanya larangan mendirikan bangunan di situ, Malik harus merelakan kedainya terkena penertiban alias digusur. Saya bisa dibilang pelanggan setianya saat ngopi tiap sore di kedainya saat itu. Kini dalam tempo-tempo tertentu saja, saya mampir untuk sekadar menyapanya atau membeli es tebu di sana.

Dalam berjualan, Malik biasanya ditemani sang istri. Mereka mulai membuka lapak pukul sembilan pagi dan pulang pukul lima sore. Harga segelas es tebu hijaunya hanya Rp 2 ribu.

Siang itu, selepas rapat redaksi pagi Jawa Pos, saya bermaksud pulang lagi ke rumah. Karena cuaca amat terik, rasa haus tak bisa saya tahan. Karena itu, saya menyempatkan mampir di stan es tebu milik Malik. Hari itu pria 53 tahun tersebut menyapa saya ramah. Ia mengira saya hendak mampir ke sekolah tempat istri saya mengajar. Saya jawab tidak. Hanya kebetulan mampir dan melepas dahaga dengan es tebunya.

Saya juga mencomot beberapa jajanan yang tersedia di situ. Malik meminjam koran yang saya bawa. Ia membaca salah satu berita tentang pembunuhan balita oleh ayah kandungnya di Sidoarjo akhir Juni lalu.

Wajahnya tampak murung. Gurat kesedihan jelas tampak di wajahnya. Di berita itu disebutkan bahwa si bapak tega membunuh anaknya karena diduga untuk menambah kesaktian ilmu supranatural yang ditekuninya. Pembunuhannya pun tergolong sadis. Si anak dicekik, lalu lidahnya digigit oleh bapaknya sampai putus.

Tanpa sengaja saya melihat mata Malik berkaca-kaca. ”Kenapa Pak?” tanya saya. Akhirnya baru hari itu saya tahu dari Malik bahwa ternyata ia belum dikaruniai anak. Malik mengaku usia pernikahannya telah menginjak tahun ke-34 tahun. Ia sangat sedih membaca berita tentang bapak yang membunuh anak kandungnya dengan sadis. Sementara ada orang lain yang begitu mendambakan punya anak. Jelas sekali Malik larut dalam kepedihan.

Malik adalah seorang yang ramah. Kepada siapa pun pembeli es tebunya, Malik dan istri tak lupa untuk melayani dengan senyum. Bahasa yang mereka pakai pun kerap bahasa Jawa krama inggil.

Bahkan, istri Malik selalu berbicara dengan bahasa Jawa halus dengan suaminya, santun sekali.

Malik mengatakan, kendati belum punya anak, ia tak pernah berpikir untuk menikah lagi dengan wanita lain agar bisa punya keturuanan. Malik juga tidak berniat untuk mengadopsi anak. Alasannya, ada keponakan dan cucu-cucu keponakan yang kadang meramaikan suasana kediamannya.

Namun, ujarnya, ia tak bisa memungkiri sangat ingin memiliki anak yang lahir dari rahim istrinya. ”Tapi itu sudah tak mungkin, istri saya sudah tua,” ucap Malik dalam bahasa Jawa halus.

Baginya, menikah itu tidak sekadar memiliki keturunan, namun ada pelajaran dan hikmah hidup di sana. Ia yakin Allah punya pandangan yang lain terhadapnya. Wajah Malik terlihat pasrah. Ia berusaha menerima dengan ikhlas apa yang tengah dialaminya terkait dengan kerinduannya yang begitu mendalam tersebut.

Life must go on. Bisa jadi Allah punya rencana yang indah buat Malik dan istrinya. Tanggung jawab memiliki anak itu sangat besar. Apa pun itu, Malik tetap berusaha menjalani hidup seperti air mengalir tanpa harus terbebani asa memiliki anak kandung. Hal yang membahagiakan bagi saya adalah melihat Malik kompak bekerja dan saling membantu satu sama lain. Juga tutur kata santun dari istri Malik kepada sang suami.

Saya percaya, Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Tidak ada yang mustahil baginya.

Itu pula yang terjadi pada Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim as. Doa Nabi Ibrahim dikabulkan oleh-Nya. Sarah, sang istri tercinta, yang selama ini hamil akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang saleh bernama Ishaq, yang kelak juga diangkat sebagai nabi. Padahal, kala itu Sarah sudah berusia lanjut dan sebelumnya mandul.

Sebelum beranjak dari situ, saya berusaha menghibur Malik. ”Aku ini kan juga anak sampeyan tho, Pak,” ucap saya sembari mendoakan semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan untuk keduanya. Setia sampai maut memisahkan mereka.

Graha Pena, 4 Juli 2012

http://samuderaislam.blogspot.com

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 4, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. terharu membacanya.. tulisannya mengalir dengan indah.. salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: