Zaman Kemunduran Karya Tulis?


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Ada satu ungkapan terkenal yang ditulis Robert Pinckert dalam bukunya yang berjudul The Truth About English. Yakni, Writing is thinking. If you can’t think you can’t write. Learning to think. Artinya: menulis ialah berpikir. Jika Anda tak bisa berpikir, Anda tak bisa menulis. Belajar menulis berarti belajar berpikir.

Karena itu, wajar jika menulis menjadi suatu aktivitas yang penting. Dengan menulis, itu berarti kita turut membangun sebuah peradaban.

Sebagai ilustrasi, tidak banyak yang diketahui dari zaman prasejarah. Para ahli hanya menerka-nerka apa yang terjadi pada saat itu dari hasil temuan tulang-belulang. Di sisi lain, masyarakat kita di Indonesia pasti mengenal Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang pernah jaya pada masanya. Majapahit begitu terkenal karena teritorinya termasuk wilayah nusantara sekarang ini ditambah area Singapura hingga beberapa daerah di Malaysia. Demikian juga Sriwijaya yang kekuatan maritimnya begitu disegani di tingkat Asia Tenggara.

Majapahit dikenang hingga kini dan anak-anak kita mengetahuinya karena ada bukti karya tulis yang lahir di zaman itu. Misalnya, kitab Kakawin Negarakertagama karya sastra Mpu Prapanca yang sangat mahsyur dan kitab Pararaton karya Brendes (sejarah lahirnya Singasari dan Majapahit).

Jika pada masa itu telah lahir banyak karya sastra bermutu tinggi, sudah seharusnya era tersebut berlanjut saat ini. Namun, faktanya kita justru mengalami kemunduran dalam hal karya tulis. Budaya menulis belum akrab, bahkan menyentuh level kaum akademisi dan intelektual. Akibatnya, ada saja orang yang nekat melakukan plagiat terhadap karya tulis milik orang lain. Ini tentu ironis. Kita menjadi miskin kreativitas. Miskin berpikir. Kita sudah jauh tertinggal dari bangsa lain dalam hal membaca dan menulis.

Menulis saat ini kalah populer dengan menonton acara televisi yang kini semakin dibanjiri infotainment dan sinetron yang tidak edukatif. Demam jejaring sosial juga tidak malah menambah produktif dalam hal menulis.

Karena itu, mau tak mau kita mesti mengejar ketertinggalan tersebut. Menulis sebagai aktivitas yang amat mulia harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita, generasi penerus bangsa. Jika menulis dianggap sebagai kegiatan yang membosankan dan sulit, stigma tersebut harus segera dihapus. Kita mesti kreatif dalam mengemas menulis sebagai aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat. Dan ini harus diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak kita agar mereka kelak terbiasa membuat karya tulis.

Kita tahu bahwa budaya lisan itu penting. Namun, perlu diingat pula bahwa ucapan atau nasihat secara lisan bisa hilang ditelan zaman. Sehingga suatu peradaban bisa hilang begitu saja. Untuk itu, diperlukan dokumentasi guna menyimpan sejarah.

Suatu bangsa yang besar tak boleh melupakan sejarahnya, demikian kata Bung Karno. Sejarah tak boleh lenyap begitu saja. Karena itu, kita harus menuliskannya. Menjadi pelaku sejarah dan membangun sebuah peradaban.

Graha Pena, 30 Juni 2012

https://mustprast.wordpress.com

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 30, 2012, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: