Ultah JP dan Sepatu Pak Bos


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Novel best seller yang berkisah tentang masa kecil Dahlan yang bercita-cita memiliki sepatu untuk berangkat ke sekolah. (sumber: fanabis.blogdetik.com)

Hari ini, Minggu, 1 Juli 2012, Jawa Pos tepat menginjak usia ke-63. Bersamaan dengan hari jadi Polri. Selama kurun waktu itu, banyak peristiwa penting yang telah dilalui surat kabar nasional yang berbasis di Surabaya tersebut.

Sejak diakuisisi oleh Tempo pada 1982, Jawa Pos perlahan menjelma menjadi salah satu poros koran nasional. Dari koran yang awalnya nyaris bangkrut (hanya 6.000 ribu eksemplar tiap hari) menjadi koran dengan tiras 300 ribu eksemplar sehari dalam kurun lima tahun.

Kesuksesan itu tak bisa dilepaskan dari tangan dingin Dahlan Iskan yang ditunjuk Erik Samola sebagai leader Jawa Pos sejak dibeli Tempo. Dahlan betul-betul memulai segalanya dari nol. Demikian pula saat mendidik para wartawan.

Bisa dibilang, para wartawan yang pernah berada di bawah ”bimbingannya” kini rata-rata mencapai bintang terang. Dahlan dikenal sebagai sosok disiplin dan pekerja keras.

Ia berprinsip, tidak ada yang tidak mungkin. Demikian juga soal filosofi sukses. Setiap orang bisa meraih keberhasilan. Namun, baginya, tidak ada sukses yang instan. Sukses hanya bisa diraih dengan kerja keras, disiplin, dan penuh semangat.

Ia tak suka melihat ada redaktur yang halamannya telat alias melewati deadline. Jika itu terjadi, Pak Bos –demikian kami biasa menyapanya– bisa murka.

Dalam hal tulisan, Pak Bos juga sangat perhatian dan sangat ketat. Siapa pun wartawan yang pernah ”dididik” langsung olehnya pasti tahu bahwa lead berita harus menarik (tentu dengan kriteria yang sudah ditentukan). Bagi Pak Bos, berita baru bisa dimuat jika lead-nya dinilai delapan. Apabila nilainya, menurut Pak Bos, baru tujuh, sang wartawan pasti disuruh menulis lagi.

Menulis adalah jiwa. Karena itu, Pak Bos menginginkan gaya tulisan yang seolah-olah mengajak pembaca berbincang-bincang. Itulah mengapa tulisan Pak Bos begitu renyah, khas, dan enak dibaca.

Soal bahasa, Pak Bos juga menaruh perhatian khusus. Kalimat dalam berita Jawa Pos harus pendek-pendek. Tidak boleh panjang dan paaanjang. Sebab, menurut Pak Bos, kalimat yang terlalu panjang akan ”menyiksa” pembaca. Membuat pembaca mudah capek.

Pak Bos juga pernah bilang bahwa koran bukan kitab tata bahasa. Karena itu, tak heran jika terkadang ada kata atau kalimat dalam berita Jawa Pos yang tak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Alasannya, berita Jawa Pos harus komunikatif dengan pembaca. Tidak boleh terlalu kaku.

Pagi ini Pak Bos yang kini menjabat menteri BUMN dijadwalkan hadir dalam ultah ke-63 Jawa Pos. Pagi-pagi sekali, pukul 06.00, Pak Bos akan melakukan senam bersama seluruh karyawan di DBL Arena Surabaya.

Ketika menyempatkan berkunjung ke redaksi, saya hampir selalu melihat Pak Bos menulis. Yang terbaru, beliau rajin mengisi rubrik Manufacturing Hope tiap awal pekan. Saya menyebutnya seperti tuturan laporan Pak Bos sebagai pejabat negara.

Semangatnya dalam bekerja memang patut diacungi jempol. Juga grapyak. Alias mudah sekali bergaul dengan siapa saja. Gayanya santai, tapi dalam kerja harus optimal.

Bagi saya yang termasuk generasi muda di Jawa Pos, Pak Bos selalu punya cerita untuk dibagikan. Selalu punya inspirasi. Susah, senang, sakit, sehat, maupun perjalanannya selalu jadi tulisan yang menarik untuk dibaca dan disimak.

Pagi ini pula, saya memulai kegiatan Klub Baca Buku IGI dengan membaca novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara yang telah diluncurkan di Surabaya Mei lalu. Novel ini setidaknya mengusung pesan yang sama dengan novel laris Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata ataupun Negeri 5 Menara-nya Ahmad Fuadi. Yakni, spirit pantang menyerah.

Dalam novel Sepatu Dahlan dilukiskan bagaimana Dahlan remaja mesti berjuang melawan kemiskinannya. Begitu melaratnya, sampai-sampai ia mesti berjuang keras untuk mencapai impiannya: punya sepatu. Dan tercapai dengan terbelinya sepasang sepatu bekas yang ujungnya sudah bolong.

Sebelum sepatu itu terbeli, Dahlan muda mesti berjalan sejauh 6 kilometer setiap hari untuk pergi ke sekolah. Dengan kaki telanjang. Yang tentu saja bakal membakar telapak kaki jika melalui aspal di tengah terik yang membakar kulit.

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan meraih kesuksesan adalah keniscayaan bagi orang-orang yang mau bekerja keras. Inilah prinsip yang dipegang teguh Dahlan Iskan. Segala hambatan yang menghadang tidak harus dihindari, tapi mesti berani kita lalui dan taklukkan. Jatuh itu biasa. Dan untuk meraih kesuksesan, kita terkadang merasakan terjatuh dulu. Supaya kaki tetap memijak bumi dan dada tidak selalu membusung. Sebab, jalan keberhasilan itu tidak mesti mulus seperti aspal di jalan tol negara maju.

Sukses hanya bisa diraih dengan kerja, kerja, dan kerja keras. Semangat ini juga digambarkan dengan apik oleh Khrisna Pabichara dalam novel Sepatu Dahlan. Ada jurang kemiskinan yang begitu dalam di sana, namun tidak ada raut kesedihan dan penuh penyesalan. Yang ada hanya semangat untuk meraih cita-cita. Yakin betul-betul bisa menggapainya. Dan menjadi juara!

Graha Pena, 1 Juli 2012

https://mustprast.wordpress.com

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 30, 2012, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: