Klub Baca Buku IGI (12)


Dahsyatnya Kisah Sepatu Dahlan Iskan

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Novel best seller yang berkisah tentang masa kecil Dahlan yang bercita-cita memiliki sepatu untuk berangkat ke sekolah. (sumber: fanabis.blogdetik.com)

Ketika memakaikan sepatu buat putranya, Putra Nababan sangat terharu. Wakil Pemred RCTI itu jadi teringat pada kisah Dahlan Iskan kecil yang begitu mendambakan sepatu. Masa kecil yang sulit di pelosok Magetan, Jawa Timur. Putra Nababan kali pertama bertemu langsung dengan eks Dirut PLN tersebut pada 1994, saat menjadi wartawan harian Merdeka (Jawa Pos Group).

Nababan memberikan testimoninya itu saat peluncuran novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara. Pada peluncuran yang dilangsungkan di Bundaran HI, Jakarta, tersebut, hadir pula pendiri ESQ Leadership Center Ary Ginanjar. Dia sempat mengajak seorang wanita tunarungu untuk memberikan komentar terhadap novel yang terinsipirasi dari kisah Menteri BUMN Dahlan Iskan semasa menghabiskan masa kecil hingga remaja di Magetan itu. Wanita tersebut mengaku terkesan dengan Dahlan saat melihat aksi koboinya di pintu tol. ”I love you, Pak Dahlan,” ucar perempuan berjilbab tersebut sebagaimana dikutip dari Kompas (27/5).

Dalam sesi foto dan wawancara di redaksi Jawa Pos Mei lalu, Khrisna menjelaskan bahwa novel ini lebih banyak mengupas pengalaman Dahlan yang punya cita-cita tinggi: PUNYA SEPATU. Sebagaimana pernah diakui oleh Dahlan, dirinya memang sangat mendambakan punya sepatu. ”Betapa nikmatnya jika ke sekolah dengan bersepatu,” tutur Pak Bos, demikian saya dan kawan-kawan di Jawa Pos biasa menyapa beliau. Inilah yang menginspirasi Khrisna untuk menuangkan cerita heroik masa lalu Dahlan ke dalam novel.

Novel terbitan Noura Books ini merupakan bagian pertama di antara tiga sekuel yang direncanakan. ”Setelah novel Sepatu Dahlan, nantinya akan dibuat Surat Dahlan dan Kursi Dahlan,” papar Khrisna di hadapan wartawan yang menemuinya di Graha Pena Surabaya.

Sebagai pejabat, nama Dahlan memang menanjak belakangan ini. Hal itu tak bisa dilepaskan dari aksi-aksinya yang jauh dari kebiasaan seorang pejabat. Eks CEO Jawa Pos Group tersebut kerap tampil nyentrik. Berkemeja putih dengan terkadang lengan digulung, celana hitam, dan ini yang khas darinya: sepatu kets.

 Tak pelak, segala tindak tanduk Dahlan menjadi santapan pers nasional. Ke mana ia pergi bisa dipastikan jadi berita. Ia seolah selalu punya cerita untuk dibagikan kepada masyarakat Indonesia. Publik tanah air tentu masih ingat ketika Dahlan dengan santainya naik ojek menuju Istana Merdeka untuk menghadiri rapat pejabat negara bersama Presiden SBY. Juga saat bapak dua anak itu tidur di rumah seorang petani.

Ketika kali pertama dilantik sebagai Dirut PLN, Dahlan pernah didemo karyawan PLN. Ia menyikapinya dengan tenang. Ia bilang siap bekerja total untuk PLN. ”Saya tak akan ambil gaji sebagai Dirut PLN,” tuturnya di hadapan pers kala itu.

Bahkan, ketika dilantik menjadi menteri negara BUMN, Dahlan tak mau didampingi ajudan. Ia juga menyetir sendiri mobilnya untuk ngantor ke Kementerian BUMN. Ia tak mau pakai mobil jatah menteri. Banyak fasilitas pejabat yang memang tidak ia gunakan. Ia juga mendobrak birokrasi pemerintahan. Tak pelak, ia sempat terkena interpelasi dari DPR.

Aksi Dahlan menuai pujian. Namun, juga ada suara miring terhadap semua aksi-aksinya tersebut. Suara minor itu menyebut bahwa Dahlan hanya mencari simpati rakyat, sok aksi, dan sebagainya.

Misalnya, aksi Dahlan saat ”murka” di pintu tol Semanggi pada 20 Maret lalu. Sekitar pukul 06.10 saat itu, Dahlan terlihat keluar dari mobil dan marah-marah. Kekesalannya dipicu oleh kemacetan panjang di pintu tol lantaran hanya ada satu loket yang buka. Sedangkan dua loket lainnya tutup. Padahal, saat itu antrean kendaraan roda empat mencapai 30 lebih.

Ada inspirasi hidup dalam novel Sepatu Dahlan. (Sumber gambar: sepetaklangitku.blogspot.com)

Merasa malu karena selalu mendengung-dengungkan pelayanan publik yang baik, Dahlan lantas membuang kursi petugas di loket kosong tersebut. Aksi koboi ala Dahlan ini belum berhenti sampai di situ. Ia membuka pintu tol dan menggratiskan semua mobil yang terjebak antrean panjang. Ia turut mengatur lalu lintas di sana dan sempat diketahui oleh Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar. Direksi Jasa Marga pun kena getahnya, teguran keras dari Pak Menteri.

Bagi beberapa orang, tindakan Dahlan tersebut dinilai lebay alias berlebihan. Bukan bermaksud membela, sebagai anak buahnya di Jawa Pos dan tentu saja mengenal karakter kedisiplinan Dahlan, saya tidak heran dengan yang dilakukan Pak Bos di pintu tol Semanggi tersebut. Kami tahu betul apa risikonya jika halaman sampai telat melebihi deadline. Disiplin ketat itu sudah kami rasakan selama bertahun-tahun sejak Dahlan menjadi CEO Jawa Pos Group.

Saya melihat etos kerja Dahlan Iskan tersebut sudah terbentuk sejak ia masih muda. Ia membuktikannya saat masih menjadi wartawan majalah Tempo pada akhir 1970-1980-an. Ia pernah menulis reportase yang mengagumkan saat tragedi kapal Tampomas II pada 7 Februari 1981. Prestasinya dalam jurnalistik akhirnya mendapat ganjaran dengan pengangkatannya sebagai kepala biro Tempo di Jawa Timur yang berkedudukan di Surabaya. Sukses di sana, Dahlan dipercaya sebagai leader saat Tempo mengakuisisi Jawa Pos yang nyaris bangkrut pada 1982. Suksesnya berlanjut. Dahlan mengangkat Jawa Pos sebagai surat kabar yang diperhitungkan di Surabaya Dengan oplah yang sebelumnya hanya ratusan eksemplar per hari menjadi lima ribu eksemplar tak kurang dari lima tahun saja. Bersaing dengan Surabaya Post, koran sore yang amat populer di Surabaya kala itu. Kepada anak buahnya, Dahlan selalu menekakan bahwa sukses itu hanya bisa diraih dengan kerja keras. Ini pula yang ia bawa di Kemeterian BUMN. Ia membawa slogan terkenal: Kerja, kerja, kerja!

Kerja keras itulah yang juga tergambar dalam novel Sepatu Dahlan. Ia bekerja keras sebagai buruh tandur (tani) dan menggembela kambing milik juragan di kampungnya. Saat pertama bisa membeli sepatu untuk sekolah, Dahlan begitu gembira. Itu terjadi saat ia duduk di kelas tiga madrasah aliyah (MA) atau setingkat SMA. Sepatu tersebut langsung menjadi benda kesayangannya. Begitu cintanya pada sepatu itu, Dahlan tak mau memakainya setiap hari. Takut rusak. Maklum, sepatu itu hanya sepatu BEKAS! Bagian ujungnya sudah bolong. Jika dipakai, jempol kaki Dahlan akan nongol. Namun, ia sangat bersyukur memiliki sepatu tersebut. Paling tidak, telapak kakinya tidak akan berlumur kotoran jika melewati jalan becek atau terasa panas karena menginjak aspal di tengak terik saat pergi ke sekolah.

Novel ini mengutip banyak pesan moral dari Dahlan. Salah satunya ditulis Khrisna pada bab 29. ”Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya. Hukum alam. Maka sebagai orang miskin, aku tidak berharap terlalu muluk-muluk.”

Dalam suatu wawancara dengan Andy F. Noya di acara Kick Andy, Dahlan mengaku hidup itu harus dijalani dan disyukuri apa adanya. Tidak perlu menyesali keadaan. Yang penting, berusaha dan bekerja keras. ”Tidak ada sukses yang seperti jatuh dari kolong langit alias tiba-tiba,” tegas Dahlan.

Begitu menginspirasinya novel ini, sehingga saya mengusulkannya untuk menjadi bahasan dalam Klub Baca Buku bersama aktivis Ikatan Guru Indonesia (IGI) Dhitta Puti Sarasvati dan guru MAN Salatiga Amelisari Kesuma serta rekan-rekan pendidik lainnya. Memotret inspirasi sepatu Dahlan dari berbagai sudut pandang masing-masing. Menulis inspirasi dari inspirasi orang lain untuk menginspirasi pembaca lainnya. Keren, kan?

Graha Pena, 27 Juni 2012

https://mustprast.wordpress.com

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 27, 2012, in Catatan Harian, Edukasi, Menulis and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. menurut Mas Eko, pantaskah seorang Pak Dahlan Iskan menjadi presiden?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: