Menulis sejak SMA


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Selepas salat Jumat siang itu, saya janjian bertemu dengan Jihan, salah satu anggota tim jurnalis SMAN 5 Surabaya, di Graha Pena. Dia ingin melakukan tanya jawab seputar kegiatan literasi di sekolahnya.

Banyak hal yang ditanyakan oleh siswi berjilbab tersebut. Termasuk rencana pembuatan majalah sekolah dan penerbitan buku dari kumpulan tulisan terbaik siswa Smala (sebutan SMAN 5 Surabaya).

Namun, ada pertanyaan yang mendapat porsi jawaban paling banyak dari saya. Yakni, mengapa para siswa mesti menulis.

Saya menjelaskan kepada Jihan bahwa menulis itu termasuk salah satu kecerdasan linguistik. Ada empat produk kecerdasan linguistik. Yakni, berbicara, membaca, menyimak, dan menulis. Tanpa menafikan tiga kecerdasan linguistik lainnya, menulis adalah yang paling penting. Bahkan, pakar linguistik dari UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Pangesti Wiedarti PhD pernah mengatakan bahwa menulis itu memiliki tingkat kesulitan paling tinggi.

Di sisi lain, kegiatan menulis itu mempunyai sederet manfaat. Tak pelak, bagi kalangan akademisi, menulis itu salah satu kemampuan atau skill yang harus dikuasai. Mulai mahasiswa S-1 sampai S-3 semuanya wajib menulis. Menulis adalah santapan sehari-hari mereka.

Namun, ironisnya, menulis dianggap sebagai sesuatu yang masih sangat sulit untuk dilakukan. Terutama di kalangan akademisi. Terbukti, ada saja kasus plagiat yang menyeruak. Bahkan sampai melibatkan kandidat doktor sampai profesor.

Mengapa ini bisa terjadi? Tak bisa dimungkiri, itu salah satunya disebabkan oleh belum terbiasanya masyarakat intelektual (baca: akademisi) untuk menulis.

Karena itu, saya tegaskan kepada tim majalah Smala bahwa materi menulis itu mesti diberikan sejak pelajar. Terutama SMA.

Sebab, sebagaimana diketahui, kebanyakan lulusan SMA dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni perguruan tinggi atau universitas. Nah, di universitas, membuat paper, skripsi, ataupun proposal termasuk tugas yang akan mereka dapatkan. Di sinilah pentingnya bekal kemampuan menulis itu.

Jika materi menulis sudah diberikan sejak pelajar, salah satu produk kecerdasan linguistik itu tidak akan jadi momok saat mereka duduk di bangku kuliah nanti.

Sayangnya, porsi menulis yang umumnya masuk dalam mata pelajaran bahasa Indonesia masih sangat sedikit di sekolah. Dalam seminggu, hanya beberapa jam. Ini tentu sangat tidak ideal.

Graha Pena, 24 Juni 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 24, 2012, in Edukasi, Menulis and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: