Debat Si Korup dan Pelacur


Oleh Eko Prasetyo

Ilustrasi: worldartsandra.blogspot.com

Malam itu udara terasa pengap. Terdengar bunyi berderit-derit, sesekali suara jangkrik berlalu di tengah rintihan dari salah satu bilik sempit di wisma Dolly.

”Ah, kau hebat sekali, Min,” ucap Parji memuji ketrengginasan Minul di atas ranjang.

”Hampir saja napasku terasa putus,” lanjutnya sambil menyeka keringat dengan handuk.

Selepas mereguk kenikmatan laknat itu, Parji membenahi kembali pakaian dinas pejabatnya yang sebelumnya dilucuti dengan napas memburu.

”Berapa bayaranmu untuk kali ini, manisku?” Parji tersenyum genit, mengeluarkan dompet kulitnya yang berwarna cokelat, seperti warna kulitnya.

”Satu juta saja, Mas,” jawab Minul sembari membetulkan kembali branya. Mata Parji berubah mendelik. Menahan emosi.

”Dasar pelacur berlumur dosa! Pasang tarif mencekik leherku!” hardik Parji tiba-tiba.

”Kau lebih berdosa dariku. Kau rebut hak rakyat banyak untuk dikorupsi. Sedangkan aku justru memberi kenikmatan bagi banyak orang!” Wajah Minul merah. Membara di hatinya.

Graha Pena, 20 Juni 2012

https://mustprast.wordpress.com

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 20, 2012, in Flash Fiction. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: