Latihan Menulis dengan Memanfaatkan Media Film



Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

”With great power, comes big responsibility..”

~Ben Parker, paman Peter Parker, dalam film Spiderman I

*****

Dahlan Iskan pernah bilang, menulis itu butuh latihan. Karena itu, latihan menulis pun butuh pendampingan atau pelatihan. Semakin dilatih, kemampuan menulis seseorang pun akan semakin baik. Semakin sering menulis, plus memperbanyak bacaan, kualitas tulisan seseorang juga kian bagus.

*****

Poster film drama terbaik Forrest Gump. (sumber: college.swankmp.com)

Saya termasuk penggemar film. Tak jarang pula, saya mengajak para mahasiswa untuk menonton film dalam pelatihan menulis. Sebagian mahasiswa tentu tidak asing dengan kegiatan seperti itu. Sebab, ada juga dosen pada mata kuliah tertentu yang mengajak mahasiswa menonton film.

Dalam suatu kesempatan tatap muka dengan mahasiswa sebuah PTN di Surabaya pada acara diklat jurnalistik, saya pernah mengajak mahasiswa selama kurang lebih dua jam menonton film Forrest Gump (1994). Film besutan sutradara Robert Zemeckis itu pernah meraih total 13 nominasi Academy Awards. Robert sendiri akhirnya meraih awards sebagai best director, sedangkan pemeran utama Tom Hanks terpilih menjadi best actor. Total, film ini menyabet enam penghargaan bergengsi itu.

Mengapa Forrest Gump? Sebab, siapa pun pemerhati film pasti setuju bahwa film ini inspiratif dan memiliki banyak pesan moral. Film tersebut diadaptasi dari novel sama karya Winston Groom yang terbit pada 1986. Novel ini mencuri perhatian besar di Amerika Serikat dan termasuk novel laris di sana. Filmnya sendiri meledak dan sukses secara komersial, juga laris di dunia.

Dengan setting tahun 1960-an, film ini menceritakan epik perjalanan hidup seorang pria bernama Forrest Gump yang IQ-nya rendah, cuma 75! Ibunya menjadi inspirasi besar Gump. Karena dianggap o’on itulah, Gump sering diolok-olok teman-temannya. Juga dijauhi.

Di sisi lain, Gump punya kawan setia sejak semasa kecil, yakni Jenny. Ia bisa dibilang cinta pupusnya Gump. Di luar segala kekurangannya tersebut, Gump punya kelebihan, yakni kecepatannya berlari yang luar biasa. Ia juga jago bermain pingpong (tenis meja). Dengan kelebihan itu, ia mengalami banyak pengalaman mengejutkan. Termasuk bertemu tokoh-tokoh terkenal.

Saat diterima menjadi tentara dan dikirim ke Vietnam, Gump pernah menyelamatkan komandannya. Saat perang berkecamuk itulah, Gump berkenalan dengan seorang serdadu kulit hitam yang bernama Bubba. Dialah yang mengajak Gump untuk membuka bisnis udang jika perang usai dan mereka selamat.

Gump bukan tentara yang mahir pegang senjata. Ia lebih banyak memanfaatkan kemampuan larinya untuk menolong para tentara yang terluka. Meski, untuk itu, ia harus bertaruh nyawa. Namun, ia tak peduli. Nilai kemanusiaan tersebut digambarkan dengan sangat menggugah dalam film ini. Gump sendiri akhirnya sukses sebagai pengusaha. Suatu torehan yang luar biasa bagi sosok yang kerap diejek orang lain lantaran dianggap bodoh dan ber-IQ rendah.

Adegan Gump sebagai prajurit AS yang dielu-elukan sebagai pahlawan. (Sumber: intal.com)

Bagi saya, inilah salah satu film drama terbaik. Saya pilih film ini di suatu pelatihan menulis dan ternyata banyak mahasiswa yang suka. Tak sedikit pula yang terharu setelah menonton film tersebut, bahkan terlecut motivasinya.

Malam sebelum mengisi pelatihan menulis, saya sudah membuat resume film Forrest Gump. Saya juga membuat lembaran pertanyaan untuk dibagikan ke mahasiswa dan harus mereka isi. Saya katakan, tak peduli komentar mereka pendek atau panjang, saya meminta mereka untuk menuangkan pengalamannya setelah menonton film Forrest Gump.

Dari satu film, kita bisa mendapatkan berbagai pengalaman yang berbeda-beda. Sama-sama bisa mengilhami satu sama lain. Sama halnya dengan kegiatan Klub Baca Buku, yakni dari satu buku tiap individu mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda.

Berlatih menulis memang bentuknya bermacam-macam. Bisa secara otodidak, bisa pula melalui diklat ataupun semiloka. Latihan menulis dengan menggunakan media film hanya sedikit di antara bentuk latihan tersebut. Yang jelas, lebih asyik dan menghibur. Satu lagi alasan saya memilih film Forrest Gump, yakni film tersebut tidak membosankan meski ditonton berkali-kali! Salah satu kutipan yang begitu membekas dalam adegannya adalah pernyataan Gump saat menanyakan takdirnya kepada sang ibu.

My momma always said, ’Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.

Sungguh menggugah!

Graha Pena, 10 Juni 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 10, 2012, in Edukasi, Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: