Klub Baca Buku IGI (11)


Membaca Buku Mengubah Takdir

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Sumber gambar: mega-oc.blogspot.com

Kita tentu sering mendengar kalimat ini: ”Ini bukan zaman Siti Nurbaya!” Kalimat tersebut seolah mudah diingat siapa saja, mulai orang dewasa hingga remaja. Zaman Siti Nurbaya sering dimaknai zaman pernikahan yang dilakukan atas dasar perjodohan oleh orang tua.

Bahkan, sedemikian populernya, Siti Nurbaya dijadikan judul lagu oleh grup band Dewa 19 yang terdiri atas Ahmad Dhani, Ari Lasso, Erwin Prasetyo, dan Andra. Anak-anak muda Indonesia generasi sekarang pun masih mengenal Siti Nurbaya.

Mengapa Siti Nurbaya menjadi buah tutur orang hingga saat ini? Itu tidak lain karena adanya novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli pada 1922. Itu berarti novel ini sudah berusia 90 tahun! Dan Siti Nurbaya masih dikenang hingga kini.

Sementara itu, kalangan pencinta sastra Jawa tentu tahu dengan Serat Kalatida yang terkenal itu. Serat tersebut ditulis oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802–1873), pujangga Jawa terkenal pada abad ke-19. Serat ini sangat mahsyur lantaran ada istilah zaman edan.

Seperti apa Serat Kalatida? Berikut kutipannya.

Amenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Melu edan ora tahan

Yen tan melu anglakoni

Boya keduman milik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lawan waspada

Terjemahannya:

Hidup di zaman edan, memang repot.

Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak

mengikuti geraknya zaman

tidak mendapat apa pun juga.

Akhirnya dapat menderita kelaparan.

Namun sudah menjadi kehendak Tuhan.

Bagaimanapun juga,

walaupun orang yang lupa itu bahagia,

namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa

ingat dan waspada.

*****

Saya yakin, Siti Nurbaya dan Serat Kalatida itu akan tetap dikenang hingga tahun-tahun mendatang. Istilah tersebut bakal abadi. Ya, abadi karena ditulis.

Saya juga yakin, orang yang menulis akan abadi dan dikenang sepanjang zaman. William Shakespeare sudah wafat pada 1616 atau 396 tahun silam! Namun, namanya tetap dikenang orang hingga kini. Itu tak lain berkat karya-karya besarnya seperti Romeo and Juliet, King John, The Lake of Lucrece, dan lain-lain.

Jika ditanya mengapa saya menulis, salah satu jawaban yang akan saya berikan adalah: ”Saya ingin dikenang oleh anak cucu saya. Mewariskan sesuatu yang lebih bernilai ketimbang harta…”

Agaknya, kita perlu merenungi pernyataan Suparto Brata, sastrawan Jawa, ini. Dia menyebut, mau tidak mau, kita harus menanamkan budaya membaca dan menulis kepada anak-anak kita. ”Jangan sampai kita hidup seperti zaman bapak mertua saya…” kata Suparto.

Suparto Brata lahir pada 1932 di Surabaya. Yang dimaksud zaman bapak mertuanya adalah kondisi saat banyak orang buta aksara. Hal itu membuat rakyat Indonesia jauh tertinggal. Dia menegaskan lagi, membaca buku itu bisa mengubah takdir.

Wallahu’alam.

Graha Pena, 9 Juni 2012

https://mustprast.wordpress.com

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 9, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: