Klub Baca Buku IGI (7)


Pelajaran dari Steve Jobs

 

Catatan Eko Prasetyo

Bookaholic, tinggal di https://mustprast.wordpress.com

Menakjubkan! Membaca buku Biografi Steve Jobs yang ditulis Walter Isaacson memaksa saya untuk menghela napas berkali-kali. Kagum. Mulai dari serangkaian kisah hidupnya semasa kecil, keberaniannya untuk berinovasi, hingga kesuksesannya bersama Apple. Beberapa koleganya dan orang-orang yang pernah bekerja sama dengannya mengatakan bahwa ia gila. Pasalnya, ia tak pernah mau berhenti berinovasi. Sebagian lainnya mengejek Jobs sebagai orang sinting.

Namun, di balik itu semua, ia ingin melakukan dan menciptakan sesuatu yang baru yang belum pernah dilakukan, yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

Hasilnya, selama 30 dekade ia mengeluarkan serangkaian produk yang mengubah industri dunia. Inilah produk-produk itu:

  • Apple II, yang mengacu pada papan sirkuit yang rancangan Steve Wozniak dan beralih fungsi menjadi personal computer (PC) pertama yang dipakai secara umum.
  • Macintosh, yang menjadi induk revolusi komputer rumahan dan memopulerkan antarmuka pengguna grafis.
  • Toy Story dan film-film sukses lain buatan Pixar yang menjadi pembuka keajaiban dunia khayal digital.
  • Apple Store (Toko Apple), yang berhasil menemukan kembali fungsi toko sebagai sumber informasi sebuah merek.
  • iPod, yang mengubah cara orang mendengarkan musik.
  • Toko iTunes, yang melahirkan kembali industri musik.
  • iPhone, yang menjadikan telepon genggam sebagai peranti musik, fotografi, video, e-mail, dan situs web.
  • App Store, yang menelurkan industri pembuatan konten digital.
  • iPad, yang meluncurkan komputer tablet dan menawarkan produk koran, majalah, buku, dan video berbentuk digital.
  • iCloud, yang menurunkan fungsi komputer dari tugas utamanya sebagai pengelola konten dan membuat sinkronisasi antarperanti Apple berjalan dengan mulus.
  • Apple, yang dianggap Jobs sebagai karya terbesarnya, tempat segala khayalan dirancang, diterapkan, dan dijalankan dengan cara yang sedemikian kreatif sehingga berhasil membuat Apple sebagai perusahaan paling bernilai di dunia.

Sedemikian kreatif dan inovatifnya Jobs, sampai-sampai sang penulis buku ini, Isaacson, enggan menyebutnya cerdas. Namun ternyata lebih dari itu. ”Ia adalah orang yang benar-benar genius!” tegas Isaacson (hal. 685).

”Lompatan imajinasinya tak terduga, mengandalkan insting, dan terkadang ajaib,” lanjut pemred CNN dan manajer editor majalah terkemuka Time tersebut.

Tebal buku biografi yang ditulis Isaacson ini memang bisa membuat gentar untuk membacanya: 742 halaman! Namun, toh di dalamnya banyak nilai-nilai sosial yang bisa dipetik. Baik untuk memotivasi diri dan orang lain maupun metode-metode menarik yang bisa dipelajari dari pengalaman Jobs.

Di antara 41 bab yang ada dalam buku berlatar warna putih susu dengan sampul wajah Jobs yang berusia 50-an tahun itu, saya sangat tersentuh oleh cerita pada bab 34 (Ronde Pertama, hal. 550). Jobs telah melalui tahun-tahun yang melelahkan. Ia terlalu sibuk bekerja tanpa menghiraukan kesehatannya. Sejak 1997 ia menyetir mobil sendiri pulang-pergi untuk menjalankan dua perusahaan besar, Apple dan Pixar. Tanpa disadari mungkin sejak itulah batu ginjal dan penyakit lain mulai menggeroti tubuh Jobs. Ia pun didiagnosis terkena kanker pada Oktober 2003 oleh seorang ahli urologi yang kebetulan memeriksa kesehatan Jobs.

Namun, Jobs tetap punya semangat untuk survive dan bangkit. Ini mengingatkan saya pada Pangesti Wiedarti PhD, akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang berhasil melalui masa-masa beratnya saat melawan gerogotan penyakit kanker. Namun, dasar Jobs memang gila kerja, ia tak bisa berhenti untuk sekadar menolak mengangkat telepon dari relasi bisnisnya.

Pada Februari 2005, ia merayakan ulang tahunnya ke-50. Di saat itu, ia menerima undangan untuk berbicara pada acara wisuda Stanford University pada Juni 2005. Kendati jarang memberikan pidato selain demonstrasi produk di atas panggung, toh Jobs tetap menyanggupi untuk memberikan pidato wisuda itu.

Untuk membantunya dalam pidato, Jobs meminta bantuan penulis naskah brilian Aaron Sorkin (A Few Good Men, The West Wing). Jobs menelepon Sorkin pada Februari. Sorkin pun menyanggupi dan Jobs memberikan beberapa ide kepadanya.

Setelah Maret berlalu tanpa ada kabar, Jobs kembali menelepon Sorkin pada bulan April. Namun tetap tak ada kiriman tulisan naskah pidato kepadanya. Hingga Juni datang, naskah yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.

Alhasil, Jobs panik luar biasa. Ia memang biasa menulis sendiri naskah presentasinya, namun bapak tiga anak tersebut tak terbiasa memberikan kata sambutan dalam wisuda sarjana. Sungguh sulit.

Akhirnya, suatu malam ia duduk sendiri dan menulis sendiri pidatonya tanpa bantuan siapa pun selain minta pendapat sang istri. Hasilnya, pidato tersebut menjadi ceramah yang sangat intim dan sederhana dengan sentuhan pribadi yang jujur ala produk sempurna Steve Jobs.

Alex Harvey pernah berkata bahwa cara terbaik memulai sebuah pidato adalah “Perkenankan saya menyampaikan suatu cerita.”

Tidak ada yang tertarik mendengarkan kuliah, tetapi semua orang yang senang mendengarkan cerita. Dan itulah yang dipilih Jobs!

”Hari ini saya ingin menyampaikan tiga cerita dalam hidup saya. Itu saja. Tidak muluk-muluk. Hanya tiga cerita,” ucapnya memulai pidato.

Cerita pertama tentang saat ia keluar dari Reed College. “Saya bisa berhenti mengambil mata kuliah yang tidak menarik bagi saya dan mulai mengambil mata kuliah yang kelihatannya jauh lebih menarik,” kisahnya.

Cerita kedua tentang pemecatannya dari Apple dan ternyata hal itu baik untuknya. “Beratnya menjadi sukses digantikan oleh ringannya menjadi pemula lagi. Sebab, pemula berarti tidak punya beban,” tegas Jobs.

Para mahasiswa dan wisudawan semakin tercekat dan terpikat oleh cerita Jobs. Orang-orang itu seakan tak peduli dengan adanya pesawat yang berputar-putar di atas kepala mereka dengan spanduk yang bertulisan Daur ulang semua limbah elektronik.

Cerita ketigalah yang membuat mereka sangat terpesona.  Cerita itu tentang saat ia didiagnosis terkena kanker dan itu membawa pencerahan yang dibawanya.

”Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah alat terpenting yang pernah saya temukan untuk membantu mengambil keputusan besar dalam hidup. Sebab, hampir segalanya –segenap harapan eksternal, kesombongan, perasaan takut malu atau gagal- semua itu menjadi tidak relevan di hadapan kematian yang hanya menyisakan hal-hal yang sungguh penting. Mengingat bahwa Anda akan mati adalah cara terbaik yang saya ketahui untuk menghindari perangkap berupa ketakutan akan kehilangan sesuatu. Anda sudah TELANJANG. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.”

Isaacson sampai-sampai menyebut itu sebagai sambutan wisuda terbaik yang pernah ada. Ia mengatakan, “Carilah sepuas hati Anda dari berbagai antologi hingga YouTube dan Anda tidak akan menemukan sambutan wisuda yang lebih baik.”

Minimalisme yang piawai dalam pidato tersebut memberinya kesederhanaan, kemurnian, dan pesona. Sambutan lain bisa jadi lebih penting. Misalnya, sambutan oleh George Marshall pada 1947 di Harvard University yang mengumumkan rencana membangun kembali Eropa. “Namun, tetap tidak ada yang mengalahkan keanggunan pidato Jobs,” tulis Isaacson.

Dari situ ada hal yang memengaruhi saya. Yakni, memang sudah seharusnya kita menghindari pidato atau sambutan yang bertele-tele, panjang, dan membosankan. Itu sama sekali tidak menarik. Dalam suatu kesempatan, saya menyaksikan dari dekat pidato sambutan Dahlan Iskan pada acara puncak Safari Diklat Jurnalistik Jawa Pos pada 2 Januari 2010 di gedung DBL Arena Surabaya. Sambutan tanpa teks yang diberikan Dahlan tak sampai 20 menit. Namun, saya bisa menyaksikan para hadirin di sana begitu terpikat. Mungkin saja Dahlan pernah melihat gaya presentasi Jobs yang memukau itu, lalu terinspirasi.

Yang jelas, saya belajar banyak dari Dahlan dan terutama Jobs. Salah satunya, tekun berusaha, tidak takut bermimpi tentang suatu hal yang ingin sekali diwujudkan, dan berani berinovasi untuk melahirkan suatu kreasi. Kuncinya, sebaimana dikatakan Jobs, amat sederhana: STAY HUNGRY, STAY FOOLISH!

Silakan terjemahkan sendiri.

Salam Klub Baca Buku!

Sidoarjo, 1 Juni 2012

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 31, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. perkenalkan nama saya heru.
    mhn info alamat klub ini dimana ya?
    kalo jd member bgmn caranya?
    trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: