Klub Baca Buku IGI (3)


Jam Wajib Membaca

 

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Sore itu rumah saya kedatangan tamu. Dia kawan lama saya dari Badan Amil Zakat Pemprov Jawa Timur (BAZ Jatim). Namanya Sulaiman. Dulu kami pernah sama-sama menjadi tenaga relawan di sana. Karena kesibukan kerja dan aktivitas menulis buku, saya akhirnya mengundurkan diri, sedangkan Sulaiman hingga kini masih menjadi relawan di sana.

Meski jarang bertemu, kami masih tetap bertukar kabar dan informasi. Sulaiman sendiri kuliah di jurusan elektro Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya. Kampusnya kebetulan dekat dengan kantor saya, bersebelahan. Saat tiba waktu salat Asar atau salat Magrib, kami kadang bersua di Masjid Ubhara. Sekadar tanya kabar dan ngobrol sebentar.

Hari itu ia bercerita banyak tentang taman baca yang didirikan BAZ Jatim di beberapa kampung di Kota Surabaya. Pengadaan bukunya berasal dari dana bantuan para donatur (muzakki) BAZ Jatim. Salah satu taman baca itu berada di Kampung Keputran.

Di kampung tersebut, memang masih banyak warga miskin. Nah, untuk menekan angka kemiskinan tersebut, salah satu upaya yang dilakukan oleh BAZ Jatim adalah turut mencerdaskan anak-anak warga Keputran. Bentuknya, mendirikan taman baca untuk warga dan anak-anak.

Progesnya terus berjalan dan menunjukkan perkembangan signifikan. Dari Sulaiman, saya menerima kabar lain bahwa akan diadakan jam wajib membaca bagi anak-anak yang tidak sekolah di sana. Nah, dia meminta bantuan buku bacaan anak-anak, baik yang kondisi baru maupun bekas, untuk menunjang taman baca di Keputran. Saya sangat senang dan menyambut antuasias hal ini. Di sisi lain, saya mengingatkan kepada Sulaiman untuk membuat jam wajib membaca itu dalam suasana yang senyaman-nyamannya bagi anak-anak.

Saya pikir, membaca harus diterapkan kepada siapa saja, juga perlu diperkenalkan sejak dini. Membaca mesti dibiasakan, termasuk kepada anak-anak. Tentu dengan suasana yang menyenangkan.

Di tengah tingginya animo dan perhatian anak-anak Indonesia terhadap tontonan televisi, kita mestinya ikut waspada. Sebab, tidak semua tayangan televisi itu memiliki nilai edukasi. Nah, salah satu caranya adalah membiasakan diri membaca. Jam wajib membaca dapat menjadi jawabannya. Jika minimal satu jam sehari membaca buku, banyak manfaat yang akan didapat. Itu pasti. Apabila anak-anak Indonesia diwajibkan membaca minimal satu jam saja di luar jam sekolah, hasilnya bakal sangat dahsyat. Saya yakin!

Graha Pena, 26 Mei 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 26, 2012, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: