Terbitkan Bukumu! (65)


Kiat Tawarkan Produk

Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

”Penulis boleh idealis, tapi juga perlu progesif!”

~ Eko Prasetyo, editor buku Tuhan Sedang Sibuk

*****

Ilus: Kompasiana

Dalam sebuah acara, saya mencatat pesan Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos dan Dirut PLN yang kini menjabat menteri BUMN. Salah satunya, pentingnya menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Artinya, hal itu bisa mulai dilakukan oleh pelajar.

Di tengah kencangnya gaung entrepreneurship di lingkungan pendidikan, setidaknya itu memberikan dampak positif bagi para anak didik. Di antaranya, melatih kreativitas, mengubah hobi atau minat menjadi suatu usaha, menambah pengalaman, dan yang terpenting adalah virus berwirausaha itu dapat menjadi bekal penting mereka kelak. Setidaknya menjadi pengusaha  -baik kecil maupun menengah- bisa menjadi alternatif yang tepat di tengah sulitnya lapangan kerja saat ini.

Sudah jamak diketahui bahwa ijazah sarjana saja tidak menjamin  seseorang bakal mudah mendapatkan pekerjaan. Yang mencengangkan, persaingan kerja yang melibatkan lulusan S-2 atau program magister kini justru semakin ketat. Dengan fakta tersebut, bisa dimaklumi kalau banyak lulusan SMA yang mengeluhkan kian sengit ketatnya persaingan untuk bisa masuk di dunia kerja. Di sisi lain, banyak pelajar kelas 3 SMP yang atas pertimbangan tertentu akhirnya memilih bersekolah di sekolah menengah kejuruan (SMK). Salah satu alasannya, di SMK mereka tidak hanya mendapatkan berbagai teori, tetapi juga soft skill dan praktik magang kerja.

Bagaimana dengan dunia menulis? Tak jauh beda, seorang penulis juga dituntut untuk kreatif. Tidak semua penulis seberuntung Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, atau Asma Nadia yang banyak bukunya jadi best seller. Tantangan lainnya, menembus penerbit ternama bisa dibilang tidak mudah. Persaingan di dunia perbukuan pun ketat.

Karena itu, menerbitkan buku sendiri (self publishing) bisa menjadi alternatif di tengah persaingan ketat tersebut. Self publishing bisa menjadi jawaban atas keinginan menerbitkan buku yang mungkin selama ini hanya menjadi angan-angan. Saat ini jasa penerbitan self publishing sudah banyak. Misalnya, Leutika Prio, Samudera Biru, dan dapurbuku.com. Dengan semakin majunya dunia penerbitan yang memanfaatkan teknologi digital saat ini, seseorang bahkan bisa mencetak bukunya satu eksemplar saja! Kini menerbitkan buku sendiri semakin mudah. Bahkan, untuk mengurus ISBN (international standard book number) dan barcode di Perpustakaan Nasional RI semakin mudah.  Gratis! Ya, saat ini pengurusan ISBN tidak ditarik biaya sepeser pun.

Masalahnya, setelah buku itu diterbitkan, yang perlu dipikirkan adalah pendistribusiannya. Bagi yang masih awam atau baru memulai dunia self publishing, tentu ini menjadi tantangan tersendiri.

Langkah yang sering dilakukan oleh banyak self publisher adalah menawarkan buku ke distributor atau toko-toko buku. Ada beberapa alternatif lain yang bisa dilakukan. Yakni:

1. Bazar

Kita bisa mencari informasi tentang pelaksanaan bazar di tempat tertentu. Jika event tersebut melibatkan banyak peserta, kita bisa menghubungi panitia dan membuat perjanjian untuk menjual produk (buku) kita.

2. Book fair atau pameran buku

Setiap periode tertentu, di kota besar seperti DKI Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogjakarta, Medan, dan Makassar kadang diadakan pameran atau festival buku. Nah, kita bisa memanfaatkan momen ini. Misalnya, menyewa stan atau menitipkan buku kita di stan tertentu dengan perjanjian yang disepakati antara dua pihak.

3. Perpustakaan

Setiap perpustakaan biasanya selalu meng-update koleksi buku-bukunya. Jangan malu mendatangi pengelola perpustakaan untuk menawarkan buku kita. Tawarkan diskon khusus kepada mereka.

4. Mengajukan proposal ke pemkot/pemda

Jamak diketahui bahwa pemkot/pemda biasanya rutin mengadakanmelakukan pengadaan buku untuk didrop ke instansi-instansi di bawahnya. Kita bisa membuat proposal pengajuan buku. Tawarkan kepada mereka dengan diskon khusus. Namun, jangan lupa untuk tetap waspada karena proyek seperti ini rawan KKN. Oke!

Yang patut dicatat, keberhasilan dalam berwirausaha di bidang self publishing ini bergantung pada kecermatan melihat potensi pasar serta kegigihan dan keuletan penulis. Dalam berwirausaha, pasti ada untung dan rugi. Potensi kerugian bisa saja terjadi dan dialami. Namun, jangan mudah putus asa. Terus tingkatkan kreativitas. Yang penting, penulis harus progresif! Artinya, aktif berkarya dan aktif menawarkan produknya.

Sidoarjo, 24 Mei 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 24, 2012, in Menulis. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Terimakasih Mas Eko tulisannya jadi tambah semangat, pas banget dengan browsing saya hari ini :-)…ingin publish sendiri buku kumpulan puisi saya yang lama terpendam, tapi dana belum mencukupi, cari sponsor kemana ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: