Terbitkan Bukumu! (64)


Outline Itu Penting!

 

Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

 

 

”Saat seseorang mengucapkan terima kasih atas apa yang telah Anda tulis karena mendapat manfaatnya, kebahagiaannya tak bisa diukur dengan uang…”

~ Eko Prasetyo, penulis buku Karena Ukhuwah Begitu Indah dan Kekuatan Pena

 

*****

 

”Saya sebenarnya sudah punya ide-ide untuk ditulis. Tapi, saat mau ngetik, pikiran saya langsung buyar dan ide tadi seolah hilang. Akhirnya, ya nggak jadi nulis,” ujar seorang peserta dalam sebuah kesempatan seminar menulis.  Pernyataan serupa beberapa kali saya dengar. Saya yakin, banyak orang yang mengalami hal yang sama dengan peserta tadi, yakni ide seolah lenyap dari pikiran saat hendak memulai menulis artikel atau naskah buku.

Tidak bisa dimungkiri, seseorang kadang mudah melontarkan banyak gagasan atau ide. Namun, ketika mencoba mentransfer ide tersebut ke dalam bentuk tulisan, seolah-olah macet. Tidak keluar. Kesulitan lainnya, saat menjabarkan ide tersebut, tulisan bisa melebar ke mana-mana tak keruan. Tidak fokus.

Nah, karena itu, untuk memudahkan menulis, sangat diperlukan adanya kerangka tulisan atau outline. Peran outline ini sangat penting bagi seorang penulis. Ia ibarat pemandu dan pengingat. Ia berfungsi sebagai pemandu tentang poin-poin apa saja yang hendak ditulis beserta paparannya. Ia berfungsi pula sebagai pengingat bagi penulis agar tetap fokus dalam bahasannya supaya tulisannya tidak melebar ke mana-mana.

Sebuah outline yang sudah dibuat tidak bersifat kaku. Artinya, penulis bisa menambahi poin-poin khusus dalam bab tertentu dengan tujuan lebih memudahkan saat akan memaparkan suatu bahasan.

Berikut saya berikan contoh sederhana suatu outline untuk naskah buku.

 

Halaman judul……………………………………………………………….

Kata pengantar dari tokoh…………………………………………….

Kata pengantar penulis…………………………………………………

Bab I………………………………………………………………………………

Bab II…………………………………………………………………………….

Bab III……………………………………………………………………………

Bab IV………………………………………………………………………….

Bab V……………………………………………………………………………

Daftar pustaka……………………………………………………………

Lampiran ……………………………………………………………………

Profil penulis………………………………………………………………

 

Apakah menulis artikel ilmiah populer (opini) untuk dikirim ke media massa juga perlu membuat outline? Biasanya, penulis pada tingkat mahir memang tidak membuat outline. Misalnya, seorang pengamat, ahli di bidang tertentu, jurnalis, dan warga yang memang sudah terbiasa dan terlatih menulis artikel. Namun, untuk menuju level ke tingkat mahir itu tentu diperlukan proses yang panjang. Perlu pelatihan dengan intensitas tinggi atau sering.

Maka, tidak ada salahnya jika kita membuat outline meskipun hanya pada tataran menulis artikel ilmiah populer. Setidaknya hal tersebut sangat membantu kita untuk lebih lugas dalam memaparkan gagasan-gagasan kita. Tentunya, kita tidak lupa untuk memperkaya tulisan yang kita tujukan bagi pembaca dengan sumber-sumber tertentu serta data penunjang.

Berikut contoh outline yang saya ambil dari sebuah artikel saya tentang tema pendidikan yang pernah dimuat di surat kabar Radar Surabaya (Jawa Pos Group). Idenya terkait dengan kasus kecurangan dalam ujian nasional pada 2009. Data-datanya saya ambil dari surat kabar harian Jawa Pos yang memuat berita kasus kebocoran kunci jawaban soal unas di SMAN 2 Ngawi, Jawa Timur. Hebohnya, kunci jawaban yang beredar itu semuanya salah. Akibatnya, 100 persen siswa sekolah tersebut tidak lulus.

 

Tema: Unas

Judul: Unas dan Nasib Pendidikan

Ide:

  • Berita tentang kebocoran soal unas 2009.
  • Kasus di SMAN 2 Ngawi (siswa 100 % tidak lulus).

Pembahasan:

  • Militerisme pendidikan.

v  Sebelum unas, siswa dicekoki pelajaran yang diunaskan (sumber dari buku Andreas Harefa, 2006).

v  Tak ada ruang untuk berkreativitas, bereksperimen, dan bergerak.

  • Tidak mengulangi kesalahan.

v  Efek: terjadi berbagai kecurangan (jual beli soal unas, pencurian soal).

v  Unas melenceng dari tujuan awal: pemetaan pendidikan nasional.

Kesimpulan: Unas tidak dijadikan patokan mutu pendidikan nasional.

 

Sebelum memulai menulis artikel opini, saya membiasakan diri untuk membuat outline. Terkadang saya tulis outline tersebut di ponsel atau lembaran kertas yang sudah tak terpakai. Tak jarang pula saya langsung mengetik di laptop dengan menyiapkan berbagai literatur yang saya dapat dari koran dan sumber di internet, kemudian saya mulai menuliskan tiap-tiap poin menjadi tulisan lengkap. Saya merasakan betul manfaat dari membuat outline sebelum menulis artikel. Setidaknya, dalam kurun 2008 sampai 2011, lebih dari 330 artikel saya telah dimuat di berbagai media massa, majalah, dan tabloid. Demikian pula jika saya hendak menyusun naskah buku. Saya selalu menyiapkan rancangan naskah berikut outline. Itu lebih memudahkan saya dan fokus terhadap apa yang akan ditulis. Ingin mencoba?

 

 

Sidoarjo, 24 Mei 2012

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 23, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: