Terbitkan Bukumu! (62)


Jiwa Entrepreneur

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Gaung entrepreneurship bergema di mana-mana. Banyak pelajar SD hingga SMA/SMK yang telah mendapat bekal entrepreneurship, baik teori maupun praktik. Demikian juga mahasiswa perguruan tinggi. Sebagian pengamat pendidikan merespons positif hal itu. Mereka menilai, sikap dan mental wirausaha memang harus ditanamkan sejak dini.

Terkait dengan menulis, seorang pengarang atau penulis juga harus memiliki jiwa entrepreneur. Seorang penulis tidak boleh pasif. Mengapa seorang penulis mesti berjiwa entrepreneur? Sebab, dengan begitu, ia selalu disiplin dalam berkarya. Ia punya target yang jelas dan membuat deadline-nya sendiri. Tujuannya tentu saja mendisiplinkan diri sendiri dalam menelurkan karya.

Di sisi lain, dengan memupuk jiwa kewirausahaan, seorang penulis tentu akan mendapat keuntungan. Salah satunya adalah tambahan penghasilan. Seorang penulis yang berjiwa wirausahawan tidak hanya terpaku menunggu kiriman royalti ke rekening, tetapi dia akan berupaya menambah sumber penghasilan. Berikut ciri-ciri seorang penulis yang berjiwa entrepreneur sebagaimana dikutip dari Ariyanto (2008).

  • Selalu berproduksi. Setiap satu naskah  selesai, ia akan membuat naskah berikutnya tanpa menunggu naskah pertama terbit. Begitu seterusnya.
  • Tidak bekerja sendiri. Ia mampu menyinergikan berbagai sumber daya untuk meningkatkan produktivitasnya. Misalnya, melibatkan beberapa orang untuk membantu proses penulisan setiap judul buku. Contohnya, merekrut asisten penulis, surveyor, dan interviewer hingga kurir. Dengan demikian, tidak semua pekerjaan menulis ia lakukan sendiri. Jadi, pekerjaan-pekerjaan seperti mengumpulkan artikel koran (kliping), mencar buku, mencari informasi lain, dan mengedit naskah bisa dikerjakan orang lain. Pengeluaran bertambah dong? Memang ada cost untuk itu. Namun, menurut Ariyanto, hal tersebut akan meningkatkan produktivitas Anda sebagai penulis. Sebab, besarnya cost akan tertutupi dari hasil produktivitas yang tinggi.
  • Selalu menciptakan peluang. Jika seseorang hanya menulis kemudian mengirimkan naskah ke penerbit dan menunggu royalti, ia hanya memanfaatkan peluang. Nah, seorang penulis yang berjiwa entrepreneur tidak demikian. Ia akan proaktif menangkap dan menciptakan peluang baru dari jasa menulis. Misalnya, menjadi ghost writer, menulis biografi tokoh, membuka layanan editing atau jasa menjadi editor bagi karya orang lain, jasa menulis profil perusahaan, dan banyak lagi. Intinya, proaktif dan jeli melihat peluang.

Dalam berbagai kesempatan tatap muka dengan para pelajar SMA/SMK maupun mahasiswa, saya juga menekankan pentingnya memiliki jiwa entrepreneur. Saya tegaskan bahwa mereka harus berupaya mengembangkan potensi diri dan skill yang dimiliki. Ini penting mengingat angka penganggur di Indonesia masih tinggi. Di sisi lain, lapangan pekerjaan di tanah air bisa dikatakan terbatas. Seorang lulusan perguruan tinggi dengan gelar sarjana (S-1) belum tentu mudah memperoleh pekerjaan.

Karena itu, saya tekankan kepada mereka bahwa memiliki jiwa entrepreneur sangat penting. Dengan berusaha menjadi seorang wirausahawan dan berbekal skill serta upaya pengembangan potensi, mereka diharapkan bisa menciptakan peluang pekerjaan bagi orang lain. Ini juga berlaku bagi mereka yang tertarik untuk menggeluti bidang menulis. Harapannya, dengan menerapkan ilmu kewirausahaan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh penulis, tetapi juga orang lain. Karena itulah, seorang penulis mesti memupuk dan memiliki jiwa entrepreneur.

Sidoarjo, 20 Mei 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 19, 2012, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: