Pojok Bahasa: Jenazah Unesa


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Pada 30 April 2012, Drs Samsul Hadi, sekretaris Majelis Pengurus ICMI Jatim, melayangkan protes atas judul berita Jawa Pos. Pria yang juga aktif di bidang koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (K-UMKM) tersebut menyoroti judul Polisi Kesulitan Ungkap Identitas Jenazah Unesa.

Judul tersebut berkaitan dengan berita penemuan mayat di kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Lidah Wetan, Surabaya. Sebelumnya, sudah ada pemberitaan tentang peristiwa itu. ”Sebagai alumni Unesa, saya protes dengan judul berita di halaman Metropolis hari ini. Sejak kapan Unesa jadi jenazah?” tulis Pak Samsul di mailing list Keluarga Unesa.

Kemudian terjadilah diskusi tentang frasa Jenazah Unesa. Yakni, berterima atau tidak dalam konteks jurnalistik. Diskusi tersebut juga melibatkan Sirikit Syah, pengamat media yang juga mantan pemred Surabaya Post, wartawan senior Habe Arifin, eks wartawan Surabaya Post Hartoko, mantan redaktur Jawa Pos dan Sindo Solichin M. Awi, guru besar Unesa Prof Dr Luthfiyah Nurlaela MPd, serta saya sendiri.

Saya tidak menampik protes Pak Samsul Hadi. Saya juga menjelaskan bahwa frasa Jenazah Unesa itu mestinya menjadi Jenazah di Unesa. Namun, saya juga mencoba memaparkan bahwa pelesapan kata depan ”di” lazim dilakukan di surat kabar seperti Jawa Pos. Asumsinya, yang dimaksud sudah pasti bukan Unesa-nya, melainkan jenazahnya. Contoh frasa sejenis yang pernah dipakai di beberapa surat kabar di antaranya adalah:

1. Jagal Jombang. (Maksudnya bukan Jombang yang dijagal, tetapi penjagal dari Jombang)

2. Korban Marriott (Maksudnya bukan Marriott jadi korban, tetapi korban bom yang tewas di Hotel JW Marriott).

Menurut Sirikit Syah, kata depan ”di” sebaiknya tetap ada dan dipakai. ”Ini masuk ranah taste and decency: selera dan kepatutan,” kata perempuan yang tengah melanjutkan pendidikan di S-3 Unesa itu. Menurut penulis senior tersebut, frasa Jenazah Unesa bermasalah karena persoalan rasa bahasa, selera bahasa, kaidah bahasa, kepekaan terhadap subjek pemberitaan (Unesa), dan pedoman bahasa Indonesia jurnalistik.

Namun, Cak Solah –sapaan akrab Solichin M. Awi– mencoba menalaah dari sisi lain. Sebagai orang yang pernah membidani pemberitaan di Jawa Pos, Cak Solah mengatakan bahwa kata jenazah itu bukan menjelaskan makna leksikalnya, yaitu jasad. ”Saya sejak awal mencoba memahami lahirnya judul tersebut dari perspektif pengerjaan koran dan tenggat ruang dan waktu. Kadang membuat judul dengan beberapa kepentingan memang memakan waktu,” tutur Cak Solah.

Cak Solah menambahkan, idealnya memang harus ada kata depan ”di” pada judul berita tersebut sebagai ikhtiar menihilkan kesalahan interpretasi. ”Namun, saya kira ’di’ juga tidak selalu ada seandainya konotasi yang muncul dinilai biasa saja, tidak seseram kata jenazah,” ujarnya.

Dia mencontohkan kalimat sebagai berikut.

Warga Jakarta Padati Pesta Ancol

Maksud kalimat tersebut adalah pesta yang berlangsung di Pantai Ancol meskipun tajuk pestanya mungkin pesta tutup tahun. ”Untuk contoh tersebut, apa ada keharusan memakai ‘di’?” ungkap pria yang juga pernah bertugas sebagai redaktur surat kabar Seputar Indonesia (Sindo) itu.

Sirikit lantas menimpali bahwa faktor space tidak boleh mengorbankan bunyi frasa atau kalimat judul. Faktor space, menurut teori penjudulan dan penataan (lay out), bisa disiasati dengan ukuran dan jenis font. Tetapi, ini solusi terendah (terbodoh). ”Yang paling canggih, cerdas, dan sulit adalah mengubah seluruh frasa/kalimat agar space-nya cukup dengan deretan kata-kata yang pas. Inilah seninya menjadi redaktur,” jelasnya.

Sementara itu, Pak Samsul mengatakan bahwa inilah yang ia khawatirkan. Yakni, logika jurnalistik telah bekerja dengan egonya. “Mayat Unesa lebih mudah dipahami dan merasuk dibenak pembaca. Persepsi berikutnya yang muncul adalah Unesa tempat kejahatan, tempat buang mayat. Bila ini terus berlanjut, upaya membangun image bahwa Unesa tempat pendidikan yang berkualitas dan berkarakter menjadi tak berarti sama sekali,” kritiknya.

”Seandainya judul tersebut berbunyi Mayat Lidah Wetan, saya lebih mudah memahami. Tapi, pemilihan Unesa di judul tersebut jelas merugikan Unesa sebagai institusi,” keluh penggiat kewirausahaan tersebut.

Namun, penjelasan teknis diberikan oleh Habe Arifin. Direktur PT CBE tersebut mencoba mengurai benang merah dari protes Pak Samsul. Habe menjelaskan, menurut Pak Samsul, jenazah Unesa diartikan sebagai Unesa sudah menjadi mayat atau jenazah.

Habe pun melontarkan pertanyaan, benarkah arti/pemaknaan Cak Sam (Samsul Hadi, Red) itu? ”Ini yang jadi masalah, seolah-olah makna yang digores Cak Sam sudah benar. Bisa jadi memang benat, tapi bisa juga salah. Bisa juga sama-sama benar alias adanya multimakna,” kata pria yang pernah menyabet penghargaan AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) Award itu.

”Saya mencoba tidak membahas hukum DM (diterangkan menerangkan). Masuk saja ke logika bahasa,” kata Habe. Dalam logika bahasa, Unesa itu nama lembaga.

”Jelas tidak bisa disamakan dengan manusia, orang, makhluk hidup. Artinya, nama Unesa sejatinya tidak bisa dipasangkan dengan kata jenazah,” papar Habe.

”Misalnya, Unesa mati karena bubar atau dihapus pemerintah. Kematian Unesa tidak serta-merta adalah kematian para penghuninya atau gedung-gedungnya atau aktivitasnya. Apakah kita akan menyematkan kata jenazah untuk jasad Unesa? Jenazah merujuk pada kondisi fisik jasad orang mati. Jasad Unesa sangat berbeda dengan jasad manusia,” lanjut editor Buku Hitam Unas itu.

Habe menambahkan, frasa jenazah Unesa jelas-jelas tidak merujuk pada kematian Unesa. Frasa di atas tidak bisa diartikan sebagai Unesa sudah menjadi jenazah atau Unesa telah mati.

Ditambahkan Habe, apakah frasa Jenazah Unesa dalam kalimat Polisi (ke) Sulit (an) Ungkap Identitas Jenazah Unesa adalah frasa nomina yang terdiri atas kata jenazah dan Unesa atau jenazah di Unesa? ”Apakah ada unsur pelesapan kata keterangan ’di’ dalam frasa itu. Melihat logika di atas, menurut saya, frasa itu berdiri sendiri dan tidak melakukan pelesapan preposisi. Kata Unesa menerangkan kata jenazah yang merujuk pada peristiwa penemuan manusia yang mati di wilayah otoritas Unesa,” paparnya.

Dalam diskusi tersebut, sebenarnya sudah ada pencerahan yang diberikan oleh orang-orang yang terlibat diskusi. Protes yang dilayangkan Drs Samsul Hadi dan Prof Dr Luthfiyah Nurlaela MPd tidak keliru. Penjelasan dari sisi teknis jurnalistik oleh Sirikit Syah juga sangat baik. Demikian pula pendapat Cak Solah. Habe justru memberikan pemaparan yang sangat gamblang. Saya sendiri memandang bahwa frasa yang dinilai ”bermasalah” itu berterima.

Graha Pena, 19 Mei 2012

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 19, 2012, in Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: