Terbitkan Bukumu! (61)


Kenapa Penulis Tak Bisa Kaya?

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Tak bisa dimungkiri,  menulis buku di Indonesia belum bisa menjamin seseorang untuk mendapatkan penghasilan yang lumayan. Bahkan, Direktur Pendidikan Pertamina Foundation Ir Ahmad Rizali pernah mengatakan bahwa menulis artikel di koran dan dimuat lebih menjanjikan daripada pendapatan dari royalti menulis buku. Ini bisa dipahami. Honor menulis artikel opini di surat kabar nasional bisa mencapai Rp 800 ribu Rp 900 ribu.

Jika ada dua artikel yang dimuat dalam sebulan, tentu sangat lumayan. Beda halnya dengan pendapatan dari hasil royalti menulis buku. Ahmad Rizali yang pernah menulis buku Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional (2009) mengakui bahwa royalti menulis buku itu terbilang kecil sehingga tak bisa dijadikan ”sandaran hidup”. Menjadi penulis di Indonesia belum benar-benar bisa menjanjikan penghasilan yang lumayan. Kalaupun ada penulis kaya dari royalti buku, jumlahnya bisa dibilang tak terlalu banyak. Sebut saja, Andrea Hirata,  Habiburrahman El Shirazy, Ayu Utami, Dewi Lestari, Asma Nadia, dan Helvy Tiana Rosa.

Menurut Ariyanto M.B. (2008), ada beberapa hal yang membuat penulis tidak bisa kaya. Itu terjadi jika:

  1. Penulis hanya mengandalkan royalti.
  2. Penulis hanya menulis dan terus menulis.
  3. Penulis tidak bisa mengatur keuangan.
  4. Penulis tidak berpikir sebagai entrepreneur.

Secara singkat, saya akan mencoba menjabarkan beberapa poin yang diutarakan Ariyanto di atas.

Pertama, penulis memang tidak akan bisa kaya jika hanya mengandalkan penghasilan dari royalti bukunya. Misalnya saja, royalti seorang penulis hanya Rp 500 ribu dalam satu bulan. Nah, yang ditabung cuma Rp 250 ribu sebulan. Dalam setahun, jumlah tabungan tadi adalah Rp 250 ribu x 12 bulan, yakni Rp 3 juta. Apabila dikalikan 10 tahun, jumlahnya Rp 30 juta. Bayangkan, dalam 10 tahun, tabungan dari royalti ”hanya” Rp 30 juta! Itu dengan asumsi bila tabungan tidak diutak-atik. Wajar bila penulis dikatakan sulit sekali bisa kaya jika hanya mengandalkan pendapatan dari royalti.  Jelas berat!

Kedua, tidak sedikit penulis yang kerjanya hanya menulis dan menulis tanpa berpikir untuk bergaul dengan masyarakat. Minimnya sosialisasi inilah yang bisa jadi hambatan. Ia hanya menulis dan asyik di depan komputer atau laptop tanpa peduli kebutuhan ”dapur” dan berpikir yang penting cukup buat makan. Mindset inilah yang mesti diubah. Sosialisasi dengan masyarakat itu penting. Selain itu, ubah mindset tadi dengan prinsip ”Aku harus bisa kaya dari menulis!”

Ketiga, penulis yang tidak bisa mengatur keuangan. Tentu saja ini jadi warning. Yakni, berapa pun penghasilan dari menulis masih saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini termasuk gawat! Untuk itu, penting bagi penulis mengetahui kiat-kiat mengatur keuangan. Jangan sampai besar pasak daripada tiang.

Keempat, penulis yang tidak mau berpikir menjadi entrepreneur. Para pakar seperti Renald Khasali dan Ir Ciputra mengemukakan bahwa sangat penting memiliki jiwa entrepreneurship. Seseorang yang berjiwa entrepreneur selalu berani mengadakansesuatu yang tidak ada menjadi ada. Seorang entrepreneur juga mampu mengoptimalkan segala sumber daya yang ada bagi kepentingannya dan menciptakan ”mesin uang-mesin uang” untuk menambah penghasilannya.

Saya sendiri sadar bahwa sangat tidak bijak jika saya mengandalkan pendapatan dari royalti. Meski telah menulis lebih dari tujuh buku dalam kurun tiga tahun, royaltinya bisa dikatakan “tidak seberapa”. Karena itu, saya bersikap realistis dan mencoba memupuk jiwa entrepreneur. Misalnya saja, mencoba menerbitkan dan memasarkan buku sendiri (self publishing). Selain itu, saya mulai mencoba menjadi pedagang buku. Di sisi lain, untuk menamb ah penghasilan, saya juga menulis artikel opini di surat kabar. Intinya, saya tidak hanya terpaku menunggu penghasilan dari royalti buku. Kunci lainnya, setelah rampung menyelesaikan satu naskah, saya mulai menulis lagi naskah lain untuk mengisi waktu senggang. Pokoknya, mesti produktif.  Hasilnya? Alhamdulillah, sebagian hasilnya sudah saya wujudkan rumah tipe 45 di pinggiran Sidoarjo.

Sidoarjo, 19 Mei 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 18, 2012, in Menulis. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Sip2. selamat, Mas. Hanya sebagian aja dr hasil menulis udah dapet rumah, selamat dah, ^_^.
    makasih atas wawasannya tentang kepenulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: