Terbitkan Bukumu (60)


Holy dan Bukunya

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

”Menulis memerlukan ketekunan dan pemusatan pikiran atau konsentrasi…”

~ Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro, mantan Mendiknas RI

*****

Holy Setyowati Sie, BBA (foto: yasashiijeans.blogspot.com)

Mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) RI Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro memberikan apresiasi yang begitu luar biasa terhadap buku yang terbit pada 2008 ini. Pujian serupa dilayangkan oleh menteri pemberdayaan perempuan waktu itu, Prof. Dr. Meutia Hatta Swasono, MA. Buku tersebut berjudul Bayi Cerdas, Kenapa Tidak? karya Holy Setyowati Sie, BBA.

Holy adalah lulusanRitsumeikanAsiaPacifikUniversity, Beppu, Jepang. Ia dikenal sebagai wanita karir yang aktif berorganisasi, terutama dalam pertukaran budaya Indonesia-Jepang. Keaktifan dan kecemerlangannya membuat dia memperoleh sejumlah beasiswa dari beberapa lembaga Jepang. Di antaranya,RitsumeikanAsiaPacifikUniversitydan Jinnai Foundation Scholarship.

Kendati demikian, karir pekerjaannya tidak menghambat Holy untuk mengasuh anak perempuannya. Jerih payahnya membesarkan sang anak kemudian berbuah pada pencapaian prestasi sebagai finalis Nestle Cerelac Ibu Cemerlang 2007.

Nah, pengalaman-pengalamannya dalam hal mengasuh anak –mulai saat menjalani masa kehamilan hingga membesarkannya- dia tuangkan dalam tulisan. Holy berupaya menyadarkan masyarakat sekaligus membangun pemikiran bahwa memiliki anak cerdas itu bukan hal mustahil.

Tak bisa dimungkiri, setiap orang tua pasti ingin memiliki anak yang cerdas. Siapa sih yang tak ingin punya anak secerdas Albert Einstein, Wolfgang A. Mozart, ataupun Beethoven yang selalu dijadikan ikon kecerdasan? Nah, Holy mengungkapkan sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa anak cerdas itu tidak semata-mata dilahirkan, tetapi juga dibentuk. Sebab, pada dasarnya manusia memiliki kapasitas yang sama untuk menjadi cerdas.

Apakah cerdas itu? Bagaimana seseorang dapat dikatakan cerdas? Holy menjelaskan, orang cerdas adalah orang yang tahu cara memaksimalkan kerja otak. Inilah patokan cerdas. Kapan kecerdasan mulai diasah? Jawabannya adalah sejak dini!

Tak salah jika buku ini dianggap sebagai bacaan wajib bagi para orang tua. Itu mengingat banyaknya hal-hal dan wawasan seputar cara membentuk kecerdasan anak yang perlu diketahui orang tua.

Buku ini menuai apresiasi dari berbagai kalangan. (Sumber: penerbitlibri.blogspot.com)

Prof Wardiman mengatakan, menulis buku itu tidak mudah, apalagi yang isinya mengajak orang tua dari awal berpikir dan peduli memaksimalkan kemampuan si bayi agar enjadi anak yang cerdas. Menulis memerlukan ketekunan dan pemusatan pikiran atau konsentrasi. Apalagi sebuah nasihat untuk para orang tua baru yang kebanyakan masih muda, diperlukan gaya bahasa yang mudah dibaca dan dimengerti.

Ya, dengan gaya menulis yang ringan dan nyaman, Holy menyampaikan pandangan dan nasihatnya dalam cerita atau berbagai observasi sehari-hari. Topik utamanya adalah pemberian gizi, khususnya ASI, pada tahun pertama dan pemberian stimulasi yang tepat. Menurut dia, setiap orang tua harus memberikan bekal kepada anaknya sejak dini melalui dua hal. Yakni, memberikan asupan gizi yang tepat dan cukup serta berbagai tip untuk menstimulasi otak si anak. Cara tersebut dinilai akan lebih membuahkan keberhasilan bagi orang tua dalam membesarkan anak menjadi anak yang cerdas. Holy juga mendorong agar sang ayah turut aktif membantu.

Dalam usaha pencerdasan, menurut Holy, akan banyak pikiran negatif atau kebiasaan yang tidak tepat. Pikiran ini harus dilawan dengan bersikap positif dan memperkatakannya. Hal tersebut sudah dipraktikkannya dan ia berhasil menyusui anak dengan ASI hingga 23 bulan lamanya. Suatu prestasi!

Pujian kembali dilayangkan oleh Prof Wardiman. Dia menyebut, buku karya Holy ini adalah sumbangsih yang berharga dalam upaya membesarkan anak, tidak saja pada dunia perbukuan Indonesia, tapi –yang terpenting– juga pikiran orang tua untuk membina bayinya sejak dini.

Saya mengenal Holy Setyowati lewat mailing list Klub Guru Indonesia (KGI) yang kini telah berubah menjadi Ikatan Guru Indonesia (IGI). Yang bersangkutan memang sangat concern terhadap pendidikan anak, terutama pembentukan kecerdasan anak sejak dini. Buku tersebut dikirimkannya langsung kepada saya sebagai bukti bahwa risetnya berhasil. Yakni, membentuk anak cerdas itu sangat mungkin. Ia telah melalui hari-harinya yang menakjubkan sebagai ibu dari putri kecilnya dan membagikan pengalamannya dalam tulisan-tulisan yang renyah.

Sangat menyenangkan bisa berdiskusi dan mendapatkan informasi langsung dari penulisnya. Apalagi, tulisan-tulisan Holy sudah dihimpun dalam buku ini, jadi masyarakat luas bisa mendapat wawasan dan pengetahuan baru tentang kiat-kiat membentuk anak yang cerdas. Tak salah jika banyak pemerhati pendidikan dan pejabat mengacungkan dua jempol untuk buku ini.

Graha Pena, 9 Mei 2012

Bacaan:

Bayi Cerdas, Kenapa Tidak? (Libri, 2008)

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 9, 2012, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: