Terbitkan Bukumu! (49)


Kartini: Berjuang lewat Tulisan

Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

RA Kartini menuangkan kritik-kritiknya terhadap pengekangan hak kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan pada masanya. (Gambar: rizaldp.wordpress.com)

Tulisan ini diringkas dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang terbitan Balai Pustaka (cetakan ke-8 tahun 1978) yang diterjemahkan oleh Armijn Pane. Buku tersebut merupakan kumpulan surat-surat berbahasa Belanda milik Raden Ajeng Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Di antaranya,  Nona Estelle H. Zeehandelaar, Tuan E.C. Abendanon, Ny M.C.E. Ovink-Soer (asisten residen Jepara kala itu), Tuan H.H. van Kol, dan Ny H.G. de Booij-Boisevain.

 Perlu diketahui bahwa buku ini memakai gaya tulisan Melayu yang dipakai Armijn Pane. Kendati demikian, esensi dan pesan yang diungkap dari pemikiran dan gagasan-gagasan Kartini tetap tersampaikan dengan apik.

Kartini lahir pada 28 Rabiulakhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879) di Mayong, Kabupaten Jepara. Ia pernah mengenyam sekolah bersama anak-anak kaum bangsawan Eropa di Jepara. Tidak heran karena Kartini adalah putri bupati Jepara.

Sayangnya, pada usia 12 tahun, Kartini mesti dipingit (dipaksa ditutup) oleh orang tuanya demi menjalankan tradisi Jawa yang dipegang teguh oleh orang tuanya. Ia tidak boleh keluar dan sekadar bertemu kawan-kawannya dari keturunan Eropa. Tentu saja hal ini membuat teman-teman Kartini merasa kehilanga. Mereka bahkan sempat protes dan menentang adat istiadat pingitan itu. Namun, Kartini tiada bisa berbuat apa pun selain menurut.

RA Kartini adalah cucu Pangeran Tjondronegoro, bupati Demak, yang terkenal suka akan kemajuan. Pangeran Tjondronegoro adalah bupati pertama yang mendidik anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, dengan pelajaran Barat. Tentu saja, kebijakan sang pangeran mendapat celaan dari bupati-bupati lainnya. Namun, ia tidak menggubrisnya. Ia yakin bahwa pendidikan itu penting untuk membuka wawasan dan cakrawala dunia.

Pada 1902, di Pulau Jawa dan Madura, tercatat hanya ada empat bupati yang pandai menulis dan fasih berbahasa Belanda. Yakni, Bupati Serang PAA Achmad Djajadiningrat, Bupati Ngawi RM Tumenggung Kusumo Utoyo, Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat (paman RA Kartini), dan Bupati Jepara RM Adipati Ario Sosroningrat (ayah RA Kartini). Pada masa itu suasana keluarga-keluarga pribumi memang masih sangat kolot. Hanya ada beberapa bupati yang mengenyam sedikit pendidikan. Terlihat sekali bahwa keluarga RA Kartini sangat maju.

Pada abad ke-19, didirikan perhimpunan bupati se-Jawa dan Madura. Paman Kartini-lah (Pangeran Ario Hadiningrat) yang menjadi ketuanya. Kartini adalah anak kelima di antara sebelas bersaudara. Kakaknya adalah RM Sosroningrat, Pangeran A. Sosrobusono (yang kemudian jadi bupati Ngawi), RA Tjokroadisosro, dan Drs RM Sosrokartono (lebih dikenal dengan nama Kartono). Adik-adik Kartini adalah RA Rukmini, RA Kardinah (terhitung berkerabat dengan Jenderal Pol Hoegeng yang terkenal gigih memerangi korupsi), RA Kartinah, RM Sosromuljono, RA Sumantri, dan  RM Sosrorawito.

Pada usia 16 tahun (pada tahun 1895) Kartini diizinkan melihat dunia luar lagi setelah dipingit sejak umur 12 tahun. Kemudian dia dipingit lagi dan baru para 1898 Kartini diberi kebebasan secara officieel (resmi) untuk lepas dari pingitan.

Ada suatu kejadian yang sangat membekas di hati Kartini ketika menjalani masa pingitan. Dalam suatu kesempatan untuk izin keluar, ia melihat kawannya seorang gadis Eropa sedang belajar bahasa Prancis. Kawannya tersebut mengaku hendak pergi ke Eropa untuk belajar dan ingin menjadi guru. Dari sini timbul semangat untuk belajar. Kartini merasa banyak hal yang belum diketahuinya. Ia ingin banyak belajar dan belajar.

Selepas menjalani masa-masa pingitan yang amat berat itu, Kartini rajin berkorespondensi dengan para sahabatnya, baik yang menjabat di Karisidenan Jepara maupun yang berada di Nederland (Belanda)  seperti telah disebutkan di awal tulisan ini. Kartini mendapat inspirasi dari kakaknya, RM Sosrokartono (Kartono) yang pernah mengenyam pendidikan Barat. Karena itu, kepada Tuan Van Kol, Kartini mengutarakan niatnya untuk belajar di Negeri Kincir Angin. Ia sangat ingin menjadi guru. Namun, niat ini urung dilakukan karena ia direncanakan akan dinikahkan oleh orang tuanya.

Pada 1899, Ny Ovink-Soer yang kerap disapa ibu oleh Kartini pindah ke Jombang mengikuti suaminya yang menjabat di sana. Ny Ovink-Soer adalah teman berdiskusi dan curhat RA Kartini. Kartini lebih banyak mengungkapkan pemikirannya tentang perlunya kaum hawa pribumi untuk mendapat kesamaan hak soal belajar. Pada masa ini, Kartini mulai rutin mengirimkan surat ke Nona Estelle H. Zeehandelaar di Belanda.

Pada 18 Agustus 1900, Tuan Abendanon dan istrinya datang ke Jepara selaku pejabat di sana. Mereka kemudian menjadi teman berdiskusi RA Kartini. Pada 1902 Ny Ovink-Soer akhirnya berangkat ke Belanda. Dia pun kerap menerima surat-surat Kartini dan merasa girang bukan main.

Dalam suratnya untuk Nona Zeehandelaar pada 25 Mei 1899, Kartini mengatakan, “Dan adat kebiasaan di negeri kami sungguh-sungguh bertentangan dengan zaman baru, zaman baru yang sangat saya inginkan masuk di negeri kami.” Ini menandakan bahwa Kartini telah memiliki pemikiran maju untuk mencerdaskan kaumnya bangsa pribumi.

Buku ini merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang berbahasa Belanda dan diterjemahkan oleh Armijn Pane. (sumber: Google)

Banyak surat-surat Kartini yang berisi tentang mimpi soal pendidikan pribumi dan persamaan hak kaum perempuan. Hal ini membuat kagum Tuan Abendanon dan kawan-kawan Kartini lainnya. Mereka terus memberikan support terhadap cita-cita Kartini. Sayang, cita-cita itu belum sempat terlaksana karena Kartini keburu menikah pada 8 November 1903. Pada 13 September 1904, putranya lahir. Empat hari kemudian, 17 September 1904, Kartini akhirnya meninggal pasca persalinan. Perjuangan pemikiran Kartini akhirnya menginspirasi dan membuka mata banyak orang di sekelilingnya akan pentingnya pendidikan. Pada masa itu, di Jawa Barat telah ada perempuan yang sevisi dengan Kartini. Namanya Raden Dewi Sartika, yang pada 1904 mendirikan Sekolah Istri.

Pada 1938, surat-surat Kartini yang berbahasa Belanda diterjemahkan oleh sastrawan yang juga wartawan Armijn Pane. Hal ini dinilai penting karena ide-ide Kartini berkaitan dengan kepentingan masa perjuangan melawan koloniasme pada masa itu. Kartini pernah mengungkapkan bahwa pendidikan adalah hak semua orang tanpa memandang status dan kasta.

Ia berjuang dengan mengungkapkan kritik dan buah pemikiran lewat surat-suratnya kepada para sahabatnya dari keturunan Eropa. Ia menuliskan kegelisahannya. Ia menuliskan semangat perjuangan bagi kaum perempuan pribumi pada masa itu. Ia menuliskan ketertinggalan bangsanya. Namun, ia juga menuliskan cita-cita akan kemajuan. Tulisannya menginspirasi banyak orang dari semua kalangan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Kartini wafat dalam usia yang masih muda (25 tahun). Kini sudah selayaknya kita yang meneruskan cita-citanya yang luhur dan jauh melampaui pemikiran orang-orang pribumi pada masanya itu.

Sidoarjo, 21 April 2012

mustprast.wordpress. com

Bacaan:

Habis Gelap Terbitlah Terang (Balai Pustaka, cetakan ke-8 tahun 1978) – koleksi pribadi

Biografi Jenderal Pol Hoegeng (Ramadhan K.H.)

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 21, 2012, in Menulis and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: