Terbitkan Bukumu! (48)


 

Terbitkan Bukumu! (48)

Bahasa dan Kisah Bom Atom

 

Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

”Membaca itu investasi besar yang masih sering diabaikan orang…”

~Eko Prasetyo, penulis buku Kekuatan Pena

*****

Sumber: joko-motivasi.blogspot.com

Menulis adalah salah satu bentuk kecerdasan linguistik (bahasa). Namun, ada pula ahli yang menyebut bahwa menulis itu ternyata melibatkan semua tipe kecerdasan yang dimiliki manusia. Akan sangat aneh jika para penulis tidak akrab dengan bahasa.

Menurut Gorys Keraf, semakin banyak kata yang dikuasai seseorang, akan semakin banyak pula ide atau gagasan yang dikuasainya dan yang sanggup dungkapkannya.

Dengan luasnya kosakata yang dikuasai tersebut, seseorang akan lancar dalam berkomunikasi. Maka, tidak bisa tidak, seorang penulis pun mesti menguasai dan memahami ilmu kebahasaan.

Padahal, seperti kita mafhum, banyak hal-hal besar yang hanya bisa terwujud dengan komunikasi. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa kekacauan terjadi karena kegagalan atau kesalahan dalam berkomunikasi.

Kita semua tentu tahu betapa dahsyat efek dan dampak yang ditimbulkan dari bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang menjelang akhir Perang Dunia II. Tepatnya pada 6 Agustus 1945 (Hiroshima) dan 9 Agustus 1945 (Nagasaki). Tercatat sekitar 140 ribu korban tewas di Hiroshima dan sekitar 90 ribu warga tewas di Nagasaki akibat radiasi bom nuklir paling mengerikan itu.

Little boy (bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima) seberat 4.000 kg mampu meluluhlantakkan Hiroshima dalam tempo tidak lama. Kota itu akhirnya rata dengan tanah. Ribuan warga sipil meregang nyawa karena terkena radiasinya. Penderitaan serupa terjadi saat Fat Man (bom yang dijatuhkan di Nagasaki) menghancurkan kota tersebut pada 9 Agustus 1945. Bom seberat 4,5 ton itu membawa dampak radioaktif hingga 20 kilometer dari lokasi penjatuhan bom nuklir yang menimbulkan awan cendawan yang terkenal tersebut.

Presiden AS Harry S. Truman di atas kapal perang USS Augusta di perairan Atlantik pernah menerangkan bahwa hulu ledak bom atom itu 2.000 kali lipat dari bom yang pernah dipakai pada masa peperangan itu.

Awan cendawan setelah bom atom dijatuhkan di Nagasaki. (sumber: Google)

Sengatan yang luar biasa membuat banyak warga setempat yang meregang nyawa karena luka bakar stadium sangat tinggi. Korban yang selamat pun belum lepas dari penderitaan, yakni menderita leukemia, penyakit akibat dampak radioaktif, dan banyak penyakit lainnya.

Tahukah Anda bahwa peristiwa ini ada kaitannya dengan masalah bahasa atau komunikasi? Sempat dikabarkan bahwa sebelum menjatuhkan bom atom, AS pernah mengultimatum Jepang untuk menyerah setelah kekalahan demi kekalahan yang diderita di perang Asia Pasifik. Saat itu Jepang menjawab: ”Mokusatsu!”

Nah, kata tersebut diterjemahkan militer AS yang dipimpin Jenderal Douglas MacArthur sebagai ”Jangan memberi komentar sampai keputusan diambil” yang kemudian dicari padanannya sebagai ”no comment.”

Pihak militer AS menganggap jawaban itu adalah bentuk pembangkangan dan pengabaian. Padahal, arti kata ”mokusatsu” adalah ”Kami akan menaati ultimatum tuan tanpa komentar.” Dan kesalahpahaman ini membawa dampak luar biasa bagi dunia tentang tragedi bom nuklir yang sangat mengerikan itu.

Dari kisah ini, kita bisa mengambil hikmah bahwa seorang penulis sangat perlu menguasai faktor bahasa dengan baik. Minimal rajin buka kamus dan senantiasa mengikuti perkembangan bahasa.

Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bahasanya.

Sidoarjo, 20 April 2012

Bacaan:

Jawa Pos

Kompas

How To Be A Smart Writer (Afra Publishing, 2007)

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 19, 2012, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: