Terbitkan Bukumu! (47)


Klub Guru Menulis

Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

”Sebagai agen perubahan bangsa, guru mesti memiliki kecakapan tertentu untuk melahirkan generasi penerus yang unggul. Salah satunya, menguasai keterampilan menulis dengan baik…”

~ Eko Prasetyo, penulis buku Apa Yang Berbeda dari Guru Hebat

*****

Banyak kiat dan cara untuk menulis buku. Misalnya, mengumpulkan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di surat kabar, media online, ataupun majalah untuk dibukukan. Hal ini pernah dilakukan oleh penulis sekaliber Goenawan Mohammad. Kumpulan catatan pinggirnya di majalah Tempo telah dibukukan. Hal serupa dilakukan oleh mantan KSAU Marsekal (purn) Chappy Hakim. Artikel-artikel opininya yang pernah dimuat di berbagai koran nasional dibukukan dalam judul Berdaulat di Udara (penerbit Kompas, 2010).

Hal yang sama juga bisa dilakukan siapa saja yang berminat membukukan kumpulan tulisannya di surat kabar. Termasuk guru. Sebagai salah satu agen perubahan bangsa, tentu saja guru dituntut untuk mampu menulis dan aktif menghasilkan karya tulis.

Hal ini penting karena memiliki banyak manfaat. Selain menunjang sarana pembelajaran di kelas bagi siswanya, karya tulis guru juga bermanfaat sebagai ajang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan sesama pendidik. Dengan menulis, guru bisa sekaligus meningkatkan kompetensinya. Apalagi, saat ini telah ada peraturan bahwa kenaikan pangkat guru juga ditentukan dari membuat karya tulis. Yang jelas, menulis pun bisa mendatangkan keuntungan secara finansial. Terutama jika menulis artikel ilmiah popular dan dimuat di surat kabar. Honornya berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 900 ribu.

Namun, masih banyak guru yang mengeluh bahwa menulis artikel ilmiah popular (opini) di koran itu sulit. Bahkan, sampai ada yang mengatakan bahwa surat kabar mungkin enggan menerima tulisan dari guru atau kalangan tenaga pendidik. Tentu saja tudingan semacam ini tidak benar.

Ada tiga faktor utama yang perlu diketahui oleh pembaca dan masyarakat umum tentang kriteria pemuatan naskah atau artikel di surat kabar.

Pertama, faktor penulis. Tak bisa dimungkiri, sebuah media biasanya lebih suka memuat tulisan orang-orang yang sudah dikenal publik. Contohnya, Budi Darma, Gus Mus (KH Mustofa Bisri), dan tokoh lain.

Kedua, faktor keaktualan tema. Media cenderung mengutamakan tulisan yang mengangkat tema yang aktual ketimbang artikel yang mengulas tema ”basi.”

Ketiga, faktor isi. Yang dimaksud di sini adalah bobot isi tulisan atau ulasan si penulis. Nah, di sinilah sebenarnya terdapat celah atau kesempatan bagi siapa saja yang belum pernah atau baru ingin menulis di surat kabar. Faktor ketiga ini tidak memandang penulis ternama atau bukan, jika tulisannya memang baik dan berbobot serta aktual, bukan tidak mungkin redaksi akan mempertimbangkan pemuatannya.

Jadi, sebenarnya pembaca umum bisa mengirimkan tulisan artikel ilmiah populernya ke suatu media. Redaksi pun pasti memberikan ruang bagi para penulis baru. Ada kesempatan di sini. Inilah yang semestinya bisa dimanfaatkan oleh para penulis ”pendatang baru”, termasuk dari kalangan pendidik.

Baru-baru ini Ikatan Guru Indonesia (IGI) membuat suatu grup di Facebook yang bernama Klub Guru Menulis IGI. Nah, setidaknya grup ini bisa menjadi jembatan bagi para guru untuk mendiskusikan secara khusus kegiatan menulis. Di sana para pendidik bisa saling memberikan masukan untuk suatu bahasan yang diulang anggota lain. Dengan demikian, secara tidak langsung terjadi interaksi yang positif untuk meningkatkan kualitas tulisan. Apabila input positif terus diberikan di grup tersebut, bukan tidak mungkin suatu tulisan bisa memenuhi kriteria dan syarat pemuatan di suatu media. Inilah yang menjadi tantangan tersendiri.

Apabila merasa belum pede (percaya diri) untuk menuliskan gagasannya di media, guru tetap memiliki kesempatan besar dengan bergabung digrup Klub Guru Menulis IGI dan grup-grup serupa di jejaring sosial lainnya. Salah satunya, mengumpulkan tulisan para tenaga pendidik di semua jenjang, mulai TK hingga SMA/SMK/MA , yang dinilai baik dan inspiratif untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Suatu portofolio yang sangat berharga. Sebab, dengan menulis buku, seseorang turut berperan dalam perjalanan sejarah dan arah perkembangan bangsa di era kemajuan teknologi ini.

Tunggu apa lagi? Silakan bergabung, berdiskusi tentang pendidikan, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman lewat tulisan di sana. Indonesia sangat membutuhkan banyak karya tulis bermutu dari guru. Guru profesional adalah guru yang mampu menjawab segala tantangan lewat solusi-solusi kreatif, termasuk dengan menulis.

Sidoarjo, 19 April 2012

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 19, 2012, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: