Terbitkan Bukumu! (46)


Marsekal pun Menulis

Catatan Must Prast

editor Jawa Pos

Marsekal (purn) Chappy Hakim (sumber: tni-au.mil.id)

Dia putra Yogyakarta. Daerah ini dikenal sebagai basis pusat pendidikan calon perwira TNI-AU. Tepatnya, Akademi Angkatan Udara (AAU) di Maguwo. Tak heran jika dia akhirnya jatuh cinta pada dunia dirgantara yang memang lekat dengan Kota Pelajar ini.

Nama lengkapnya Chappy Hakim. Lahir di Yogyakarta pada 17 Desember 1947, Chappy muda tertarik menjadi karbol (sebutan taruna AAU). Dia akhirnya berhasil lolos tes dan diterima di Akabri Udara (kini AAU) pada 1968 serta lulus pada 1971.

Selepas lulus dari Akabri Udara, Chappy mengikuti Sekolah Penerbang. Ia sempat mengenyam kursus kedirgantaraan di Brough, Inggris, serta Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Dia tercatat memiliki 8.000 lebih jam terbang dengan beberapa tipe pesawat. Di antaranya, T-41 Cessna, jet trainer L-29 Dolphine, C-47 Dacota, dan C-130 Hercules. Berpengalaman pula sebagai penerbang VIP/VVIP serta pilot pesawat kepresidenan.

Di lingkungan TNI-AU, Chappy pernah menjabat sebagai komandan Skuadron C-130 Hercules, gubernur AAU, dan Danjen Akademi TNI. Bintangnya terus bersinar terang hingga mencapai karir puncak sebagai prajurit TNI-AU, yakni menjabat KSAU (kepala staf Angkatan Udara), dengan pangkat marsekal (bintang empat).

Bapak dua anak ini bisa disebut agak berbeda dengan tentara kebanyakan. Dia dikenal hobi menulis. Hobi yang satu ini sudah dilakoni sejak ia masih aktif di TNI-AU.

Hebatnya, Marsekal (purn) Chappy Hakim pernah menorehkan tiga rekor MURI untuk kegiatan tulis-menulis ini. Yang paling fenomenal adalah penghargaan untuk TNI-AU yang telah memproduksi buku lebih dari 100 judul dalam satu tahun!

Hobi menulisnya juga disalurkan dengan mengirimkan artikel-artikel opini di surat kabar. Tulisannya telah dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Media Indonesia, Sinar Harapan, Seputar Indonesia, Bisnis Indonesia, Koran Tempo, Angkasa, Intisari, dan lain-lain.

Bukunya yang telah diterbitkan di antaranya berjudul Air Diplomacy, Dari Segara ke Angkasa (autobiografi), dan Cat Rambut Orang Yahudi (Penerbit Buku Kompas, 2009). Bukunya yang lain berjudul Awas Ketabrak Pesawat (Grasindo, 2010).

Salah satu bukunya yang tak kalah inspiratif adalah Berdaulat di Udara (Penerbit Kompas, 2010). Buku ini berisi lima bab yang mengulas tentang kemajuan iptek kedirgantaraan; kekuatan udara nasional; industri nasonal dan cita-cita kemandirian; i; serta industri penerbangan, tantangan dan peluang.

Kumpulan catatan inspiratif Chappy Hakim. (sumber: gramedia.com)

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa tutur yang lugas sehingga menjadikannya enak dibaca. Bagi masyarakat yang awam dengan dunia dirgantara sekalipun, buku Berdaulat di Udara tersebut tetap bisa dinikmati dan mudah dicerna. Buku itu memang merupakan kumpulan artikel-artikel ilmiah populer Chappy Hakim di berbagai surat kabar. Di buku ini dicantumkan bahwa tulisan pertamanya termuat di koran Kompas pada 17 Desember 2003 dengan judul Menyambut 100 Tahun Penerbangan. Salah satu yang juga dicatat oleh Chappy adalah peristiwa di langit Bawean pada 3 dan 4 Juli 2003. Saat itu pesawat tempur F/A -18 Hornet dari Angkatan Laut Amerika Serikat terbang dan melakukan maneuver-manuver berbahaya tanpa pemberitahuan dahulu di wilayah kedaulatan Indonesia, tepatnya di atas Pulau Bawean, Jawa Timur. Benar-benar membahayakan karena sangat dekat dengan jalur penerbangan domestic dan internasional di wilayah pengawasan lalu lintas udara Surabaya dan Bali. Inilah yang disebut Chappy sebagai kesewenang-wenangan yang dilakukan negara lain terhadap Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi. Menurut Chappy, itu disebabkan mereka tahu bahwa RI tidak punya kemampuan (kekuatan udara) yang cukup untuk mengawasi seluruh wilayah kedaulatannya.

Masih banyak isu-isu lain yang dikupas mendalam dengan bahasa yang ringan serta mudah dipahami pembaca dalam buku ini. Suatu buku yang berhasil! Pasalnya, buku ini melulu bercerita tentang dunia penerbangan dan teknis lainnya, namun orang awam seakan cepat mengerti pokok masalah dan solusi yang tengah disajikan oleh si penulis.

Wajar. Sebab, Chappy sendiri mengatakan bahwa ia sengaja menulis agar masyarakat pengguna jasa angkutan udara dan anak muda yang menaruh minat terhadap dunia penerbangan tidak dirugikan dengan pengetahuan terbatas yang mereka dapatkan.

Memang ia telah membuktikannya dalam buku ini. Ia menguraikan banyak masalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan yang sering terlontar dari orang-orang pengguna jasa penerbangan. Pertanyaan itu kadang belum terjawab, bahkan tak jarang orang mendapatkan jawaban yang menyimpang alias jauh panggang dari api. Chappy telah menjawabnya dengan lugas, jelas, dan terperinci secara baik.

Menilik buku ini, artikel pertamanya dimuat di Koran pada Desember 2003 dan tulisan terakhir yang dimasukkan di bab kelima buku ini tercatat dipublikasikan pada  2009. Itu berarti buku setebal 330 halaman ini merupakan rangkuman catatan-catatan ringan Marsekal (purn) Chappy Hakim selama enam tahun!

Hebatnya catatan lawasnya pun masih relevan untuk menjadi masukan bagi pengembangan dan kemajuan dunia dirgantara tanah air. Selamat Marsekal! Terima kasih telah berbagi pengetahuan lewat tulisan-tulisannya.

Sidoarjo, 18 April 2012

Bacaan:

Berdaulat di Udara (Penerbit Kompas, 2010)

Jawa Pos

Kompas

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 17, 2012, in Menulis and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: