Papi, Mami, dan Tukang Kebun


Sumber gambar: Bluemarlinodame.blogspot.com

Dua jempol. Respons tersebut saya berikan untuk FTV yang disutradarai oleh Herwin Novianto ini. Judulnya: Papi, Mami, dan Tukang Kebun.

Jujur, saya bukan orang yang gemar nonton TV, apalagi sinetron, FTV, drama, dan sejenisnya. Saya baru mantengin TV jika ada tayangan sepak bola liga Eropa atau kejuaraan sepak bola dunia. Namun, sejak penayangannya dalam Sinema 20 wajah Indonesia pada September 2010, saya angkat topi untuk FTV yang satu ini.

Dikutip dari liputan6.com (4/6/2010), Sinema 20 Wajah Indonesia diluncurkan untuk menyambut HUT ke-20 SCTV yang jatuh pada 24 Agustus 2010. Penayangannya dilakukan setiap Selasa. Sesuai dengan judulnya, 20 FTV tersebut mengangkat cerita budaya dan sosial dari berbagai daerah di Indonesia. Orang yang berada di belakang program ini adalah aktor senior Deddy Mizwar selaku eksekutif produser.

Nah, salah satu FTV yang saya tonton adalah Papi, Mami, dan Tukang Kebun. Setelah menontonnya, saya yakin film lepas ini pantas mendapat award lantaran pesan yang diusungnya bagus. Benar saja, pada 14 Juli 2011, FTV tersebut menyabet beberapa penghargaan terbaik dalam FTV Awards 2011 di Balai Sarbini, Jakarta.

Penghargaan yang disabet adalah kategori pemeran utama pria terbaik (Sandy Nayoan), pemeran utama perempuan terbaik (Ira Maya Sopha), pemeran pembantu pria terbaik (Ence Bagus), serta sutradara terbaik (Herwin Novianto). Puncaknya, Papi, Mami, dan Tukang Kebun menyabet penghargaan FTV Terbaik.

 

Pesan Moral

Apa sih yang istimewa dari FTV ini? FTV ini memotret kondisi masyarakat kita dengan begitu dekat dan alami. Tidak berlebihan layaknya sinema lainnya. Cerita bermula dari keluarga seorang pejabat (diperankan Sandy Nayoan). Ia memiliki tiga anak (salah satunya diperankan Haikal Kamil). Suatu saat, si pejabat mengadakan acara ulang tahun di kediamannya secara meriah. Sang istri (diperankan Ira Maya Sopha) juga mengundang para koleganya sesama istri pejabat.

Di tengah kegembiraan itu, ada pesta es krim yang dihelat di taman belakang rumah. Tentu saja pesta ini mengundang perhatian anak-anak kecil yang datang bersama orang tua mereka. Anak kedua si pejabat (Haikal) yang terobsesi mengabadikan setiap momen dalam acara tersebut.

Tiba-tiba kemeriahan itu dikagetkan oleh es krim yang tumpah secara tak sengaja setelah disenggol seorang anak. Seorang tukang kebun yang bekerja di rumah pejabat itu (diperankan Ence Bagus) lantas menatap es krim yang tumpah tersebut. Membersihkannya.

Di sinilah konflik itu dimulai. Di tengah acara tersebut, istri si pejabat (Ira Maya Sopha) menerima telepon dari seorang koleganya. Ia meminta maaf karena tidak dapat hadir dalam acara itu. Si kolega juga mengabarkan bahwa dirinya mengirimkan bingkisan dalam sebuah amplop yang dititipkan via kurir. Istri si pejabat mengira bahwa bingkisan tersebut pasti berisi uang atau surat berharga.

Namun, sampai acara usai hingga keesokannya, kiriman yang ditunggu-tunggu itu belum tiba. Istri si pejabat tadi lantas melaporkannya ke suaminya. Sang istri mencurigai tukang kebun. Apalagi, ia belum lama bekerja pada keluarga tersebut. Keluarga tersebut lantas sepakat untuk melakukan investigasi demi mendapatkan amplop tadi. Kecurigaan tetap mengarah ke si tukang kebun.

Akhirnya, timbul ide dari anak laki-laki si pejabat (Haikal Kamil) untuk mengadakan acara ultah kakak perempuannya. Tujuannya, dia ingin merekam seluruh kejadian pada acara tersebut, terutama mengikuti tukang kebunnya.

Di tengah pesta, kejadian es krim yang tumpah terulang. Si tukang kebun buru-buru mengambilnya, membersihkannya dengan memasukkan ke dalam kresek. Ia lantas bergegas mencari pembantu lainnya, minta izin pulang lebih cepat hari itu. Dengan sepede onthelnya, ia pulang. Anak laki-laki pejabat tadi merekam kejadian tersebut, ikut mengikuti si tukang kebun tadi.

Dengan sembunyi-sembunyi, anak laki-laki itu enggan membuang setiap momen yang ia lihat. Setiba di rumah reyot milik tukang kebun tadi, tiba-tiba wajah anak laki-laki tersebut berubah muram. Handycam-nya nyaris terlepas dari genggamannya.

Ada pemandanggan yang tak biasa ia lihat sebelumnya.

Si tukang kebun memanggil istri dan dua anaknya.

”Anak-anak, ayo ke sini. Bapak membawa sesuatu buat kalian,”  ujarnya memanggil. Anak-anaknya penasaran, berebut mencari tahu apa yang dibawa sang ayah. Tukang kebun itu lalu mengambil kresek yang dibawanya dari rumah pejabat tadi. Es krim yang tumpah!

Tukang kebun itu lantas menyuruh anak-anaknya berdoa sebelum menyantap es krim tersebut. Tak lupa, ia juga meminta anak-anaknya mendoakan keluarga si pemilik es krim itu agar selalu murah rezeki.

Pemandangan itu semakin membuat anak sang pejabat lemas. Sedih, menyesal, dan terharu mungkin bercampur menjadi satu.

Sepulang dari situ, anak laki-laki tadi enggan keluar dari kamar. Di saat lain, anak bungsu sang pejabat mengaku menerima amplop dari seorang kurir dan ia lupa menyampaikannya kepada papi dan maminya. Kontan, hal itu membuat sang mami jengkel. Sebab, ia keburu menuduh tukang kebunnya sebagai pelaku.

Akhir cerita keluarga ini ditutup dengan tayangan rekaman anak kedua sang pejabat tadi. Mulai acara ultah, wawancara sang papi saat menjadi wakil rakyat, hingga tukang kebun yang pulang ke rumah untuk memberikan es krim tumpah kepada istri dan anaknya. Dalam adegan ketika keluarga tukang kebun itu mengucapkan doa dan terima kasihnya kepada keluarga sang pejabat, diperdengarkan rekaman ucapan si pejabat saat berkampanye. Kurang lebih bunyinya seperti ini (dikutip dari blog Bluemarlinodame): ”Selama lima tahun ini saya menjadi pejabat, saya sangat mengerti keadaan masyarakat, dan saya akan berjuang merumuskan semua hal yang prorakyat.” Ucapan itu diulang-ulang ketika scene pengemis jalanan, anak-anak warga miskin kecil yang bermain di sungai kotor, dan lingkungan kumuh.

Tampak raut muka si pejabat tadi menahan malu. Matanya berkaca-kaca melihat rekaman tersebut. Namun, masih adakah pejabat yang seperti itu, malu ketika lupa akan janjinya yang prorakyat?

 

Surabaya, 17 Juli 2011

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 17, 2011, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: