Bocoran Unas di Toilet Sekolah


Masalah ujian nasional (unas) tampaknya tak akan habis untuk dikupas. Ia bagai bola salju yang terus menggelinding dan memungkinkan memberikan dampak yang lebih besar. Salah satunya adalah masalah kejujuran yang dikebiri dalam unas. Contoh yang paling gres dan menghebohkan adalah kasus nyontek masal di SDN Gadel 2, Tandes, Surabaya. Kasus tersebut mencuat ke publik setelah dikuak oleh Siami.

Perempuan berjilbab itu melaporkannya berdasar keterangan sang anak, Alifah Ahmad Maulana atau akrab disapa Alif. Tak urung, Mendiknas M. Nuh sampai turun tangan. Aneka suara dari berbagai kalangan dan masyarakat luas pun mengemuka. Unas dianggap sebagai bumerang bagi pendidikan.

Bermaksud mengedepankan pendidikan karakter, unas justru tidak mencerminkan hal itu. Megaproyek yang malah melahirkan banyak skandal. Tentunya, kita masih ingat dengan kasus yang terjadi di SMAN 2 Ngawi pada 2009. Saat itu kasusnya sangat menggelitik –untuk tidak menyebutnya sangat memprihatinkan. Bayangkan, seratus siswanya tidak lulus. Gara-garanya, mereka menerima jawaban soal yang salah. Edan.

Di sisi lain, unas bisa menjadi pintu ke alam baka. Sudah banyak kasus yang terekspos media soal banyak anak yang tidak lulus, lantas kendat alias gantung diri. Masya Allah.

Diskusi soal unas sendiri masih belum menemukan solusi terang nan gamblang bin menyenangkan. Saat ini, ada perubahan sedikit pada unas 2011. Yakni, penentu kelulusan siswa tidak hanya unas, tetapi juga ditambah nilai rapor selama tiga tahun pendidikan plus nilai ujian sekolah. Pertanyaannya, sudah ampuhkan formulasi terbaru Kemendiknas itu? Kalau ampuh, nyatanya malah muncul kasus memalukan seperti terjadi di SDN Gadel 2 Surabaya. Iya nggak? Di mana letak keampuhannya? Kejujuran justru semakin dikebiri.

Bicara soal unas, saya mendapat pengakuan yang sebenarnya tidak mengejutkan lagi. Yakni, bocoran unas. Ini terjadi ketika saya menjadi narasumber seminar jurnalistik di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya akhir Juni 2011.

Pada sesi diskusi, kami membicarakan kasus nyontek masal di SDN Gadel 2 yang saat itu sedang hangat-hangatnya. Salah seorang mahasiswa dari jurusan teknik elektro (kalau saya tak salah ingat) menceletuk, ”Itu sih biasa.”

Pengakuannya diamini oleh salah seorang wartawan senior yang juga menjadi narasumber bersama saya saat itu. Modusnya benar-benar rapi. Terlalu panjang untuk diceritakan di sini. Langsung ke intinya, bagaimana siswa itu bisa mendapat bocoran soal unas?

Para peserta kompak menjawab, ”Kamar kecil!!!!”

Ya, toilet…. Di toilet itulah jawaban soal unas ditempel oleh oknum. Lantas, siswa berpura-pura izin ke toilet secara bergantian. Dan ini sudah saling tahu sama tahu antarpengawas dan guru. Edan. Ini bukan kata saya lho. Soal bagaimana prosesnya bisa terjadi, tentunya saya tak berwenang menjawab. Silakan bagi merasa…  Mari bersama kita perangi ketidakjujuran. Kita tanamkan sebaik-baiknya benih kebaikan tersebut kepada anak-anak kita sejak dini. Bukan malah menjerumuskan mereka sebagai manusia pembohong. Kapan lagi kalau tidak sekarang, iya kan?

Surabaya, 11 Juli 2011

http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/11/bocoran-unas-di-toilet-sekolah/

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 11, 2011, in Edukasi and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: