Poster Ho Ho Hi He Pelajar


Baru bukan e-mail, saya dikejutkan oleh kiriman dari salah seorang rekan guru di Balikpapan. Yakni, foto poster tentang pelajar. Bukan sembarang poster. Pasalnya, isinya agak-agak berbau pornografi. Berikut kalimat yang tercantum, tanpa saya edit sama sekali.

 

Kenakalan pelajar saat ini bukan tauran

tapi ngentot!!!!!

Karena tauran rasa’a sakit

tapi kalo ngentot rasa’a enak..!!

Bagi pelajar, khususnya di Jabodetabek, istilah (maaf) ngentot sangat familier. Maknanya sama dengan hubungan intim.

Menurut sahabat baik saya tersebut, foto itu ia dapatkan dari situs jejaring sosial Facebook. Dalam e-mail-nya, ia mempertanyakan tiga hal.

Pertama, kok ya ada yang jadi modelnya.

Kedua, kok ya ada yang motret.

Ketiga, kok ya ada yang bikin poster seperti itu.

Mungkin saja foto ini bisa melanggar undang-undang tentang pornografi. Namun, jangan keburu mengarah ke situ. Setidaknya poster ini bisa mengetuk hati kita, para orang tua dan pendidik, untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anak-anak kita yang beranjak dewasa.

Perlu dicatat, di tengah gencarnya pendidikan karakter yang digaungkan pemerintah, dalam hal ini Kemendiknas, kenakalan pelajar juga mesti mendapat perhatian. Di antaranya, kasus tawuran antarsiswa, balapan liar, kriminalitas, narkoba, hingga seks bebas.

Khusus untuk poin terakhir, tak bisa dimungkiri bahwa kasus esek-esek yang melibatkan pelajar cukup marak. Di Surabaya saja, kasus prostitusi terselubung pelajar bukan barang baru. Kasus ini mendapat perhatian serius dari Pemkot Surabaya, polrestabes, dan aparat terkait lainnya. Salah satu tujuannya, mengikis human trafficking  yang melibatkan anak-anak di bawah umur atau usia pelajar.

Soal poster tersebut, agaknya ia bisa menjadi gambaran tentang pelajar kita saat ini. Yakni, tawuran pelajar tergeser oleh seks (bebas). Di situ ditekankan bahwa buat apa tawuran, mending ngeseks karena lebih enak ketimbang tawuran.

Kita tentu tidak ingin anak-anak kita semakin terjerumus ke limbah hitam yang justru akan menenggelamkan asa, cita-cita, dan masa depan mereka. Karena itu, tidak bisa tidak, seiring dengan pendidikan karakter, pengetahuan agama dan aplikasinya mesti tertanam betul-betul pada diri mereka. Dan ini bukan hanya tugas guru di sekolah, tapi yang paling utama adalah orang tua.

Jangan sampai kemajuan teknologi informasi justru menjungkalkan para anak didik kita ke arah yang tidak baik. Misalnya, mengakses hal-hal yang pornografi yang bisa berdampak pada tindakan pelecehan seksual hingga seks pranikah. Kita semua, seluruh komponen masyarakat, menampuk tugas ini. Berat memang, tapi kan dipikul bersama.

Surabaya, 10 Juli 2011

http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/10/poster-ho-ho-hi-he-pelajar/

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 10, 2011, in Edukasi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: