Adnan (1)


Taman Bungkul. Dulu, ketika saya kali pertama menginjakkan kaki di Surabaya pada 1999 untuk kuliah di IKIP, taman tersebut tak sebagus sekarang. Berkat polesan Tri Rismaharini, mantan kepala dinas kebersihan dan pertamanan (DKP, 2005–2008) serta mantan kepala Bappeko Surabaya (2008–2010), Taman Bungkul kini begitu asri. Kian ramai. Wajar. Sebab, taman itu semakin nyaman, baik untuk sekadar menjadi tempat nongkrong atau joging.

Risma –sapaan akrab Tri Rismaharini– memang dikenal sebagai pejabat yang begitu peduli dan memperhatikan keasrian serta keindahan lingkungan. Lahan-lahan kosong, yang terkesan garing dan puanas pol kalau kemarau, disulap menjadi taman. Kini, sejak dilantik menjadi wali kota Surabaya, Risma tetap menggalakkan program penghijauan kota. Salah satunya, pembukaan ruang terbuka hijau (RTH) di beberapa wilayah di Kota Pahlawan. Progresnya terus berjalan dan sebagai warga Surabaya, saya berharap agar Surabaya semakin hijau. Tidak identik dengan sumuk. Karena itu, saya merasa betah berlama-lama di Taman Bungkul.

Bukan hanya keasriaannya, Taman Bungkul juga mengingatkan saya pada seorang pengusaha realestat kelas wahid di Surabaya, yakni Haji Sukri Adnan. Menurut saya, Adnan bisa disejajarkan dengan Ir Ciputra sebagai tokoh entrepreurship paling kondang di Indonesia. Nih orang nggak sembarangan. Sugih pol (sangat kaya), kata orang Surabaya.

Dulu saya kerap membaca berita-berita tentang Adnan di surat kabar lokal Surabaya. Termasuk Jawa Pos. Terutama pada saat musim pembagian zakat. Rumahnya pasti ramai oleh warga duafa. Termasuk yang di Taman Bungkul itu. Pada akhir 1980-an, kegiatan berzakat Adnan selalu diliput media lokal di Kota Pahlawan. Pada 1988 saja, berdasar literatur yang saya baca (majalah Tempo), zakatnya menembus angka puluhan juta. Nominal yang guede rek, untuk ukuran zaman segitu.

Ada satu kisah menarik tentang Adnan ini yang membuat saya teringat sampai sekarang. Dia mengaku usahanya pernah gulung tikar. ”Selidik punya selidik, ternyata zakat saya tak beres,” ucapnya sebagaimana dikutip Tempo (21/5/1988).

Entrepreneur sejati. Betapa tidak, Adnan hanya protolan kelas 2 madrasah ibtidaiyah (setingkat SD). Meninggalkan Pamekasan, Madura, Adnan pergi ke Jawa untuk berdagang. Ia memulainya dari usaha kecil hingga kini dikenal sebagai pengusaha realestat kondang sak Suroboyo. Ia adalah salah satu figur orang Madura yang menuai sukses besar. Dan itu diakuinya dari hasil berzakat!

Anda boleh percaya, boleh tidak. Saya sih percaya…  (bersambung)

 

Surabaya, 8 Juli 2011

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/07/09/adnan-1/

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 9, 2011, in Entrepreneurship and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: