Jaka Tarub


Catatan Eko Prasetyo

editor Jawa Pos

Kisah Jaka Tarub penuh dengan pesan moral. (Sumber: mcwillibarcelonista.blogspot.com)

Ada keasyikan tersendiri tatkala membaca buku-buku cerita rakyat. Banyak hal-hal menarik yang bisa aku dapatkan untuk menjadi inspirasi ketika mengajarkan menulis bagi anak-anak, terutama usia sekolah dasar (SD). Misalnya, dengan membacakan kembali cerita rakyat, aku bisa memberikan ilustrasi kepada mereka tentang perbedaan dongeng, hikayat, fabel, legenda, ataupun mite.

Secara tidak langsung, mereka bisa belajar banyak hal dan mendapatkan pengalaman baru. Salah satunya, memahami apa itu pikiran pokok dalam sebuah cerita.

Yang pasti, ada nilai-nilai kearifan lokal dan pesan moral dari sebuah cerita rakyat yang bermanfaat. Dan hari itu aku ketiban sampur untuk mendongeng bagi anak-anak yang les pada istriku di rumah kami tiap Minggu siang. Karena jam les sudah selesai, aku tak keberatan untuk bercerita di depan mereka. Sesuatu yang sebenarnya begitu mereka nantikan dan sukai.

Setelah sebelumnya menceritakan kisah tentang Calon Arang, kali ini giliran aku membagikan cerita rakyat mengenai Jaka Tarub.

Di masyarakat Jawa, cerita rakyat tentang Jaka Tarub disajikan dalam berbagai versi. Namun, tokoh utamanya tetap si pemuda asal Desa Tarub tersebut.

Alkisah, Jaka Tarub bermimpi punya istri seorang bidadari. Ia pun melaporkannya kepada sang ibunda. Apa kata ibunya? ”Itu cuma bunga tidur,” jawabnya bijak. Maksudnya, mimpi tersebut tidak memiliki arti dan membawa firasat apa pun.

Jaka Tarub sehari-hari diceritakan bekerja sebagai petani. Terkadang ia berburu ke hutan untuk mencari hewan sebagai persediaan makanan. Misalnya, rusa, ayam hutan, ataupun kambing hutan. Hari-harinya kemudian sepi seiring dengan meninggalnya sang ibunda tercinta.

Sejak itulah ia mulai memikirkan dan ingin mencari pendamping hidup. Ada pula warga Desa Tarub yang menawarinya sang jejaka tersebut untuk menikah dengan putrinya. Namun, Jaka Tarub menolak. Ia ingin memilih sendiri calon istrinya.

Suatu saat ia berburu kijang di Hutan Wanasana. Ia sangat terkejut ketika mendengar suara cekikikan beberapa gadis. Jaka sempat ketakutan karena menyangka itu makhluk halus penunggu hutan. Setelah mencari asal suara, ia kaget melihat beberapa gadis sedang mandi di sebuah telaga hutan. Cantik-cantik. Rupanya, mereka adalah sekelompok bidadari kahyangan yang tengah turun ke bumi dan menyegarkan diri di telaga yang jernih tersebut.

Jaka Tarub pun langsung terpikat. Kemudian, muncul niat dalam benaknya untuk mencuri selendang milik salah satu bidadari agar tak bisa kembali ke negeri kahyangan. Setelah berhasil, ia menyembunyikan selendang itu di lumbung padi miliknya di rumah.

Ternyata, selendang tersebut milik bidadari jelita yang bernama Dewi Nawangwulan. Singkatnya, Jaka Tarub akhirnya berhasil memperistri bidadari itu.

Mereka hidup rukun meski dengan kondisi ekonomi serba terbatas. Untungnya, meskipun tak bisa kembali ke kahyangan, Dewi Nawangwulan masih memiliki kesaktian. Yakni, menanak nasi hanya dari satu butir padi.

Dewi Nawangwulan pernah meminta kepada suaminya untuk berjanji tidak membuka periuk nasi yang tengah dimasak. Namun, Jaka Tarub melanggar pesan itu.

Ia membuka periuk nasi dan kaget saat melihat di dalamnya hanya ada satu butir beras. Dewi Nawangwulan mengetahuinya. Pada saat bersamaan, ia menemukan kembali selendangnya yang pernah dicuri Jaka Tarub.

Nawangwulan akhirnya kembali ke statusnya sebagai bidadari. Jaka Tarub meminta maaf kepada istrinya tersebut agar tidak menerima hukuman dari para dewa. Namun, ia tetap dihukum atas kesalahan yang telah dilakukan. Yakni, Jaka Tarub tidak akan pernah lagi bertemu dengan istrinya.

Sementara, anak mereka, Dewi Nawangsih, yang masih kecil disepakati ikut Jaka Tarub. Nawangwulan memberikan cara kepada Jaka Tarub jika Nawangsih kelak ingin bertemu ibunya. Yaitu, membakar tumpukan jerami di depan halaman rumah. Setelah berpisah dengan Nawangwulan, Jaka Tarub menangis dan menyesali kesalahannya.

Ketika selesai mendongeng, aku melihat anak-anak sangat antusias. Mereka mendengarkannya dengan saksama. Kemudian aku lantas bertanya kepada mereka tentang nilai yang bisa diambil dari cerita Jaka Tarub tersebut.

”Kita nggak boleh mencuri sesuatu yang bukan milik kita!” ucap Nurul, 10 tahun, salah satu peserta les.

”Wow, bagus…!” pujiku.

Aku lantas menambahkan, kisah Jaka Tarub mengisyaratkan nasihat bahwa manusia tidak boleh melanggar janji. Artinya, kalau berjanji mesti diupayakan untuk ditepati. Jangan seperti juru kampanye yang mengobral janji hanya saat pilkada atau pilpres, namun ketika menjabat lupa akan janji-janji yang pernah dilontarkan.

”Bagaimanapun, janji adalah utang…” tegasku menutup cerita menjelang sore itu. Anak-anak segera mengemasi tas masing-masing. Bersiap pulang. Semoga pesan moral tersebut melekat di benak mereka semua.

Sidoarjo, 14 Oktober 2012

About these ads

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 14, 2012, in budaya. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. keren artiklnya gan, cerita rakyt memng prlu di lestarikan :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: